Akses.co.id — Parama Hansa Abhipraya, bocah berusia tujuh tahun, mencatatkan namanya dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai anak dengan koleksi prestasi lintas disiplin terbanyak di Indonesia. Pencapaian ini mencakup berbagai bidang mulai dari akademik, seni, olahraga, hingga literasi.
Hingga kini, Parama, yang akrab disapa Rama, telah mengumpulkan 57 penghargaan dari tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Ayahnya, Aji, menuturkan bahwa pengenalan berbagai aktivitas sejak dini merupakan cara untuk memberikan pengalaman positif bagi Rama sekaligus mengisi hari-harinya.
“Jadi, prestasi lintas disiplinnya itu ada beberapa kategori. Akademik, seni, olahraga, yang terakhir ini literasi,” ujar Aji saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).
Aji menambahkan bahwa orang tua berperan mengarahkan, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Rama. “Anak kecil mah sebenarnya enggak terlalu tahu harus ikut apa. Pokoknya dia tahunya dia bermain. Asal di dalam diri mereka itu bukan sebuah paksaan,” jelasnya.
Kini, Rama menunjukkan minat yang kuat pada sains, olahraga, dan seni musik, khususnya piano. Dari puluhan penghargaan yang diraihnya, trofi World Star Champion dari Thailand International Math Olympiad (TIMO) menjadi yang paling membanggakan baginya.
Delapan Trofi dari Olimpiade Matematika
Dalam ajang TIMO, Rama berhasil membawa pulang delapan trofi sekaligus. Ia mengaku menyukai matematika karena menganggap angka sebagai tantangan yang memberikan kepuasan tersendiri ketika berhasil dipecahkan.
“Ya (matematika) susah, tapi kalau nemu jawabannya Rama senang,” ungkap Rama.
Bahkan, Rama mampu menghafal seluruh unsur dalam tabel periodik, termasuk berat atom dan fungsinya. Cita-citanya pun tak main-main, ia ingin menciptakan senyawa kimia sendiri dan membangun satelit layaknya Elon Musk.
Di tengah kesibukannya meraih berbagai prestasi, Rama tetap mampu bergaul dengan teman sebayanya. Aji menuturkan bahwa Rama justru mendapatkan banyak teman dari berbagai kegiatan yang diikutinya.
Dalam keseharian, Rama kerap menghabiskan waktu bermain di sekitar sekolah bersama teman-temannya, sementara ibunya menunggu di kantin. “Biasanya dia hilang ke perpustakaan, atau ke lapangan sama teman-temannya. Nanti ibunya tunggu di kantin, dia muncul sekitar jam 15.00 WIB,” cerita Aji.
Orang tua Rama membatasi penggunaan perangkat elektronik, hanya memberikan waktu 30 menit per hari. Namun, ia tetap diizinkan menggunakan gadget untuk keperluan belajar dan coding.
Aji mengungkapkan bahwa Rama sempat mengalami kecanduan gadget saat pandemi COVID-19, ketika kegiatan belajar dilakukan secara daring dan ruang geraknya terbatas. “Itu ngobatinnya lumayan lama sampai dia bisa duduk fokus melihat layar sampai sekarang dia alhamdulillah bisa tetap fokus,” tuturnya.
Aktivitas Seimbang untuk Tumbuh Kembang
Selain kegiatan sekolah, Rama aktif mengikuti ekstrakurikuler seperti taekwondo, les matematika, les piano, dan sekolah sepak bola (SSB). Di akhir pekan, orang tuanya rutin mengajaknya bermain di alam terbuka untuk menyerap energi positif dari lingkungan.
Ibu Rama, Riska, yang merawatnya di rumah, terus belajar dari berbagai sumber, termasuk jurnal penelitian, untuk mendukung tumbuh kembang sang anak.
Ikuti Akses.co.id
