Edukasi

Kisah Ortu yang Antar Anak Ikut UTBK 2026 di UB, Pilih Nginap di Mobil

Advertisement

Jarak ratusan kilometer, bahkan menginap di dalam mobil, menjadi saksi bisu perjuangan orang tua mendampingi anak mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Universitas Brawijaya (UB). Di hari pertama ujian pada Selasa (21/4/2026), suasana haru bercampur harapan mewarnai setiap sudut kampus.

Tak hanya para peserta SNBT yang menunjukkan raut tegang, para orang tua pun turut merasakan kecemasan, kelelahan, namun dipenuhi harapan. Kehadiran mereka di tepi jalan, selasar gedung, hingga bangku taman, menjadi wujud nyata dukungan bagi buah hati yang tengah berjuang menembus gerbang perguruan tinggi impian.

Kisah Perjuangan Orang Tua di UTBK UB

Salah satu kisah unik datang dari Ibu Rasinah, seorang nenek asal Bojonegoro. Ia tak datang sendirian, melainkan memboyong keluarga besar demi mendukung cucu pertamanya, Khoirus. Mobil pribadi menjadi “rumah sementara” bagi mereka selama berada di Malang.

“Kami menginap dan istirahat di mobil saja. Tidak apa-apa, yang penting bisa mendampingi,” ujar Rasinah, seorang petani, mengutip rilis UB pada Kamis (23/4/2026).

Fleksibilitas waktu sebagai petani dimanfaatkan Rasinah untuk menyaksikan momen bersejarah dalam hidup cucunya. Perjuangan para orang tua ini tidak berhenti saat lembar jawaban dikumpulkan, melainkan terus berlanjut hingga pengumuman kelulusan.

Perjalanan Jauh demi Dukungan Penuh

Dari Kediri, Zamzam menempuh perjalanan 99 kilometer dengan sepeda motor demi mengantar putranya, Sultan. Demi momen penting ini, Zamzam rela mengambil cuti dua hari dan menanggalkan seragam kantornya.

“Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” kisahnya. Bagi Zamzam, menempuh puluhan kilometer dengan kendaraan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata.

“Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” tutur Zamzam penuh keyakinan.

Advertisement

Dukungan untuk Bangkit dari Kegagalan

Di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), pasangan suami istri Sulastri dan Sunardi dari Probolinggo tampak duduk tenang, namun kecemasan terpancar dari raut wajah mereka. Mereka tiba di UB sejak pukul 03.00 dini hari.

Tahun ini merupakan kesempatan kedua bagi putra mereka, Fahat, yang sempat gagal dalam UTBK tahun sebelumnya. “Karena pernah gagal, sekarang semangatnya harus lebih tinggi. Kami ingin dia merasa yakin bahwa kegagalan kemarin bukan akhir,” ujar Sulastri dengan lembut.

Kehadiran mereka di sana menjadi penawar rasa trauma dan pengingat bagi Fahat bahwa ada bahu tempatnya bersandar, apapun hasilnya.

Perjuangan di Sela Kesibukan

Dukungan tidak selalu hadir dalam bentuk materi atau kehadiran fisik semata. Ardian, seorang pengemudi ojek daring asal Sawojajar, telah memulai perjuangannya jauh sebelum hari ujian.

Di sela-sela waktu mencari penumpang, Ardian kerap mengirimkan tautan informasi soal-soal UTBK kepada anaknya dan mengajaknya berdiskusi. “Saya ajak diskusi, saya amati proses belajarnya. Saya ingin dia siap secara mental,” ujar Ardian.

Meski harus mengejar setoran, Ardian memilih hadir langsung di kampus UB untuk memastikan sang anak tidak merasa berjuang sendirian. Di sepanjang jalan Fakultas Kedokteran hingga Samantha Krida, para orang tua ini tetap berdiri, menjadi pelabuhan pertama bagi anak-anak mereka, membawa harapan agar nama buah hati terukir di pengumuman kelulusan.

Advertisement