Regional

Kisah Oma Sana, Nenek 74 Tahun yang Jalan Kaki Jajakan Kacang demi Pendidikan Cucu

Advertisement

MAUMERE, KOMPAS.com — Di usianya yang telah menginjak 74 tahun, Oma Sana tak kenal lelah berjalan kaki menyusuri jalanan Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, demi menjajakan kacang tanah rebus. Ia tak sekadar mencari nafkah untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membiayai pendidikan cucu-cucunya.

Pada Rabu (22/4/2026) sore, Oma Sana, yang akrab disapa Mama Palue, terlihat menyusuri kawasan Pasar Bongkar. Kantong plastik berisi kacang tanah rebus ia bawa, menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang ditemui. “Saya sudah sejak pagi tadi pukul 09.00 Wita, sore baru pulang ke rumah,” tuturnya, menunjukkan dedikasinya yang luar biasa.

Perjuangan Harian Demi Kehidupan dan Pendidikan Cucu

Mengenakan sarung tenun, baju lusuh, dan sandal jepit, Oma Sana tampak gigih. Ia sesekali mampir ke kios dan toko, berharap ada yang membeli dagangannya. Tak semua tawaran berujung pembelian, namun semangatnya tak pernah padam. Ia berasal dari Desa Nele Lorang, Kecamatan Nele, Kabupaten Sikka, dan mendapat julukan Mama Palue karena asalnya dari Pulau Palue.

Aktivitasnya sehari-hari adalah membeli kacang tanah, kelapa muda, dan buah-buahan dari pasar, lalu menjajakannya kembali di dalam kota. Ia tak segan mendatangi kantor-kantor maupun kampus untuk menawarkan dagangannya. Semua ini ia lakukan seorang diri, tanpa bantuan transportasi, hanya dengan berjalan kaki.

Keuntungan yang didapat memang tidak seberapa. Dari modal sekitar Rp 100.000 untuk membeli kacang tanah, Oma Sana hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp 50.000. Uang tersebut menjadi penopang hidupnya sehari-hari, digunakan untuk membeli beras dan sayur, serta disisihkan untuk tabungan pendidikan cucu-cucunya.

Advertisement

Dedikasi Sejak Suami Tiada

Oma Sana dikaruniai lima anak dan kini memiliki 20 cucu. Beban hidupnya semakin berat ketika sang suami meninggal dunia pada tahun 1991. Sejak saat itu, ia menjadi tulang punggung keluarga, meneruskan perjuangan demi kelangsungan hidup dan masa depan anak cucunya.

“Kalau saya tidak kerja bagaimana saya menghidupi keluarga saya? Bagaimana saya membiayai pendidikan sekolah cucu saya yang sekarang sudah SMA?” ungkapnya dengan nada prihatin namun penuh tekad. Ia mengaku telah menggeluti dunia berjualan sejak awal tahun 2000-an, melanjutkan usaha yang dahulu dirintis oleh suaminya. “Dulu suami saya berjualan kelapa di Pasar Bongkar,” kenangnya.

Meski usianya sudah senja, Oma Sana tetap bersyukur atas pekerjaan yang dijalaninya. Harapan terbesarnya adalah dapat melihat cucu-cucunya menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi. “Saya berdoa agar Tuhan memberikan saya umur panjang agar saya bisa menyekolahkan cucu saya sampai dengan selesai,” ujarnya penuh harap.

Advertisement