Akses.co.id — PURWOREJO, KOMPAS.com – Di tengah kesibukannya sebagai perangkat desa, Suripan Nuh Rohuwoh Yudohusodo, pemuda 25 tahun yang akrab disapa Nano, mendedikasikan waktu dan tenaga untuk merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di lingkungannya. Ia tak segan menggunakan uang pribadi demi memastikan para ODGJ mendapatkan perawatan yang layak dan kesempatan untuk kembali hidup normal.
Pendekatan yang diterapkan Nano di Desa Brenggong, Kecamatan Purworejo, terbilang sederhana namun efektif. Ia meyakini bahwa ODGJ bukanlah individu yang harus dijauhi, melainkan dirangkul. “Saya cuma ingin mereka bisa kembali hidup normal, punya harapan, dan diterima lagi di masyarakat,” ujar Nano pada Jumat (24/4/2026).
Nano tidak hanya berhenti pada tahap menenangkan. Ia secara aktif membantu ODGJ dalam perawatan lanjutan, mulai dari membersihkan tubuh, memotong rambut dan kuku, hingga memastikan ketersediaan makanan yang cukup. Biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari para ODGJ kerap ditanggung dari kocek pribadinya. Langkah ini tentu bukan tanpa tantangan, meliputi risiko pasien melarikan diri atau kembali mengalami gangguan.
Namun, ketekunan Nano mulai membuahkan hasil. Beberapa ODGJ yang pernah ia tangani kini telah pulih dan kembali ke keluarga masing-masing. “Yang sudah kembali ada 1 orang, yang sedang kita rawat 1 orang dan 1 orang lagi kita masih berkomunikasi dengan keluarganya,” ungkapnya, meyakini bahwa setiap upaya kecil dapat membawa perubahan berarti.
Kisah H: Dari Perawatan hingga Merawat Kambing
Salah satu bukti nyata dari upaya Nano adalah kisah H, seorang pemuda berusia 20 tahun yang kini tinggal bersamanya. Setelah menjalani serangkaian perawatan, H diajari aktivitas sehari-hari, termasuk merawat kambing. Dalam kesehariannya, Nano memperlakukan H dan pasien lain layaknya teman sebaya, menciptakan suasana hangat melalui percakapan santai dan pijatan ringan untuk relaksasi.
“Alhamdulillah sampai saat ini biasanya dari uang pribadi dan cukup,” tutur Nano mengenai biaya perawatan. Meskipun demikian, ia menyadari pentingnya sinergi dengan pihak terkait. Nano berharap ada kolaborasi yang lebih kuat dengan dinas terkait, khususnya dalam penanganan kesehatan mental di tingkat daerah.
Lebih lanjut, Nano memiliki harapan agar para ODGJ yang telah pulih mendapatkan kesempatan kerja. Ia melihat sektor peternakan atau pertanian sebagai langkah awal yang potensial untuk mengembalikan kemandirian mereka. “Kalau mereka punya aktivitas dan penghasilan, mereka bisa lebih percaya diri dan diterima masyarakat,” jelasnya.
Puji Santoso, seorang warga setempat, menyatakan apresiasinya terhadap peran Nano. Ia mengakui bahwa keberadaan Nano sangat membantu dalam menangani ODGJ yang sebelumnya meresahkan. “Alhamdulillah, banyak yang sembuh. Kami sangat terbantu dengan keberadaan Mas Nano,” ujarnya.
Ikuti Akses.co.id
