Akses.co.id — Ni Putu Nadine Muthiarani, lulusan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Badung, Bali, membuktikan bahwa disabilitas tunarungu bukanlah halangan untuk bersaing di dunia kerja. Ia kini bekerja sebagai daily worker di Hotel Movenpick, salah satu hotel bintang lima terkemuka di Bali.
Nadine, yang merupakan lulusan SLBN Badung tahun 2025, telah bekerja di hotel tersebut selama tiga bulan terakhir. Ia mengaku tidak menyangka bisa diterima di hotel sebesar Movenpick.
“Saya tidak menyangka bahwa akhirnya saya bisa diterima bekerja di hotel sebesar ini,” ujar Nadine, dikutip dari laman Vokasi Kemendikdasmen, Sabtu (25/4/2026).
Meskipun berstatus pekerja harian, Nadine merasa sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Ia dapat bekerja berdampingan dengan para pekerja lainnya di hotel tersebut.
Harapan untuk Membanggakan Orang Tua
Bekerja di hotel bintang lima juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nadine dan keluarganya. Ia berharap dapat membuat kedua orang tuanya bangga dengan kemandiriannya.
“Saya ingin membuat orangtua bangga karena saya bisa diterima kerja dan bisa mandiri saat ini,” kata Nadine, yang ditempatkan di bagian pastry.
Dukungan dari rekan kerja di hotel semakin menambah rasa syukurnya. Nadine menilai lingkungan kerja di Movenpick sangat suportif terhadap kondisinya sebagai penyandang disabilitas.
“Teman-teman di sini sangat baik sekali. Mereka mendukung sekali dalam pekerjaan sehari-hari saya di sini sebagai pekerja baru dan juga sebagai penyandang disabilitas. Saya banyak sekali mendapatkan ilmu-ilmu baru dan keterampilan baru,” tutur Nadine.
Komunikasi dan Cita-cita
Sebelum bergabung dengan Hotel Movenpick, Nadine telah mengikuti berbagai program pelatihan. Ia pernah mengikuti program training di salah satu hotel terkemuka di Bali dan kegiatan pelatihan talenta yang diselenggarakan oleh Movenpick tahun lalu. Di sekolahnya, Nadine juga mendalami keterampilan lain seperti menjahit dan menari.
Meskipun belum berhasil melanjutkan ke jenjang perkuliahan, Nadine memiliki rencana untuk menabung sembari bekerja. Cita-citanya adalah menjadi guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Luar Biasa.
“Sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah, tapi kemarin belum diterima, jadi saya berpikir untuk sementara saya bekerja dulu sambil menabung uang untuk kuliah,” ujar Nadine.
Terkait komunikasi di tempat kerja, Nadine mengaku tidak mengalami hambatan berarti. Ia terbiasa menggunakan bahasa isyarat dan berkomunikasi secara tertulis dengan rekan-rekannya.
“Jadi, kalau misalnya ada yang kurang paham atau sulit dijelasnya, biasanya kami berkomunikasi secara tertulis. Saya tulis apa yang saya maksud,” tambah Nadine.
Kebanggaan Orang Tua
Wayan Eka Adnyana, ayah Nadine, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian putrinya. Ia tak menyangka anaknya yang berkebutuhan khusus bisa bekerja di hotel sebesar Movenpick.
“Saya yang bukan disabilitas saja tidak bisa bekerja di hotel sebesar dan semewah ini, tapi anak saya yang berkebutuhan khusus justru berhasil bekerja di sini. Saya bangga sekali dengan anak saya,” kata Wayan Eka.
Menurut Wayan, Nadine adalah sosok anak yang gigih sejak kecil dan memiliki cita-cita yang jelas. Ia bahkan rela pindah sekolah ke Denpasar saat SMA demi mendapatkan pendidikan vokasional yang lebih baik.
“Kami kan tinggal di Tabanan, kemudian saat SMA, Nadine ingin pindah ke SLBN Bandung Denpasar ini karena banyak sekali program vokasional yang bisa dia ikuti,” ujar Wayan Eka.
Wayan Eka berharap kisah putrinya dapat memberikan semangat bagi orang tua lain yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Ia meyakini, dengan dukungan pendidikan yang tepat, anak-anak berkebutuhan khusus dapat berkontribusi dan mandiri.
Ikuti Akses.co.id
