Akses.co.id — Buono Aji Santoso, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB), berhasil meraih gelar magister Akuntansi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. Pencapaian gemilang ini diraihnya dalam kurun waktu 1 tahun 6 bulan 21 hari, lebih cepat dari rata-rata masa studi program magister yang biasanya memakan waktu 2 tahun 1 bulan.
Keputusan Buono untuk melanjutkan studi S2 dimulai pada Agustus 2024 didorong oleh keinginan kuat untuk meningkatkan kapasitas diri dan memberikan kontribusi yang lebih besar di sektor publik. Ia melihat program studi Akuntansi di UGM memiliki fokus pada akuntansi publik dan menjalin kerja sama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk meningkatkan kualitas auditor internal pemerintah.
“Saya menemukan fakta bahwa prodi ini memiliki bidang yang fokus pada bidang akuntansi publik dan memiliki kerja sama dengan BPKP untuk meningkatkan kualitas auditor internal pemerintah. Dengan ini, saya ingin memastikan setiap rupiah dari APBN benar-benar memberikan value for money dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Buono, mengutip situs UGM, Sabtu (25/4/2026).
Karier Buono di sektor publik dimulai pada tahun 2018 sebagai seorang auditor. Perannya tidak hanya sebatas pengawasan pengelolaan keuangan negara, tetapi juga sebagai konsultan yang memastikan anggaran publik dimanfaatkan secara optimal demi memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat.
Prestasi dan Tantangan Selama Perkuliahan
Hasil studi yang memuaskan dan efisiensi waktu yang ditorehkan Buono tidak terlepas dari kedisiplinan tinggi yang ia terapkan. Ia mampu menyeimbangkan waktu antara kegiatan perkuliahan, pengerjaan tugas, dan perannya sebagai kepala keluarga. Saat perkuliahan, Buono selalu berusaha untuk fokus, aktif berdiskusi, dan mencatat poin-poin penting sebagai bahan pembelajaran kembali.
Selama masa studinya, Buono juga sempat mencatatkan prestasi membanggakan sebagai Best Presenter dalam International Student Conference yang diselenggarakan oleh Faculty of Business Widya Mandala Surabaya Catholic University. Pengalaman ini menjadi motivasi baginya untuk terus berkembang.
“Saya baru pertama kali mengikuti International Conference dan dengan bermodalkan kemampuan speaking Bahasa Inggris yang menurut saya pas-pasan, ternyata apa yang saya paparkan dapat diterima dengan baik dan memperoleh predikat Best Presenter. Tentunya hal tersebut menjadi motivasi saya untuk terus berkembang kedepannya nanti,” jelas Buono.
Meskipun demikian, masa studi Buono tidak luput dari tantangan. Ia mengaku kerap kesulitan membagi waktu antara studi dan tanggung jawab keluarga.
“Memang terkadang sangat sulit untuk bisa membagi waktu belajar dan keluarga. Saya selalu ingin balance antara studi saya dan menjalankan peran saya sebagai seorang Bapak,” ujarnya.
Pria berusia 30 tahun ini juga pernah mengalami hasil ujian yang kurang memuaskan di awal semester. Kekhawatiran sempat menghampiri terkait capaian akademiknya. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan dan fokus pada perbaikan hasil di ujian akhir semester.
“Pelajaran paling berharga dari pengalaman tersebut yaitu saya belajar untuk tidak menyerah sampai akhir. Saya percaya bahwa ketika kita sudah berjuang dan bekerja keras maka apapun hasilnya saya akan lebih ikhlas menerima daripada apabila saya menyerah di awal,” ungkapnya.
Buono menekankan bahwa nilai integritas dan profesionalisme menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan cara berpikirnya selama menempuh pendidikan S2.
Kehilangan dan Semangat Ibu
Di tengah kesibukannya menyelesaikan tesis, Buono juga mendampingi ibunya yang tengah berjuang melawan kanker tiroid stadium 4. Kondisi sang ibu menjadi salah satu motivasi terbesarnya untuk segera menuntaskan studi.
Sayangnya, sang ibu berpulang pada akhir Maret lalu dan tidak sempat menyaksikan momen kelulusan Buono. Meski demikian, Buono yakin ibunya akan berbahagia mendengar kabar kelulusannya.
“Saya yakin Ibu senang mendengar kabar itu. Terlihat dari raut wajah beliau yang masih saya ingat sampai sekarang. Namun, Ibu juga meminta maaf jika tidak bisa hadir di wisuda saya nanti bulan April,” tutur Buono.
Semangat juang dan nasihat ibunya untuk terus berjuang dan belajar hingga akhir hayat kini menjadi pegangan Buono dalam melangkah ke depan.
Ikuti Akses.co.id
