Regional

Kisah Aminah, Habiskan 25 Jeriken Air Sehari demi Bertahan di Tengah Kekeringan Wilayah Utara Kota Makassar

Advertisement

MAKASSAR, Indonesia – Fenomena El Nino yang ekstrem, dijuluki “El Nino Godzilla”, mulai meresahkan warga di wilayah utara Kota Makassar. Kemarau tahun ini dilaporkan datang lebih awal dan terasa lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, memaksa warga berjuang mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Aminah (55), seorang warga di Jalan Sabutung, Kelurahan Camba Berdua, Kecamatan Ujung Tanah, merasakan langsung dampak kelangkaan air. Pasokan air dari PDAM yang biasa ia andalkan kini tak lagi mengalir. “Barusan ini cepat (matinya), habis Lebaran sudah mati. Tahun lalu itu bulan delapan baru mati, ini baru bulan empat sudah kering,” keluh Aminah kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Perjuangan Mengangkut Air di Tengah Kekeringan

Ketiadaan pasokan air bersih dari PDAM membuat warga terpaksa membeli air dari pangkalan yang ada di Jalan Barukang. Setiap jeriken berukuran 20 liter dijual seharga Rp 1.000. Dengan menggunakan sepeda motor, warga harus melakukan perjalanan bolak-balik berkali-kali untuk mengangkut air, biasanya membawa antara 2 hingga 4 jeriken dalam sekali jalan.

Kebutuhan air per rumah tangga tergolong tinggi. Aminah memperkirakan minimal membutuhkan 15 hingga 25 jeriken air setiap harinya. Situasi ini bahkan bisa lebih parah bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga banyak atau sedang menggelar hajatan, yang bisa membutuhkan hingga 100 jeriken.

Dampak finansial dari kondisi ini sangat terasa. Jika rata-rata sebuah rumah tangga membutuhkan 15 jeriken per hari, maka pengeluaran bulanan hanya untuk air bersih bisa mencapai Rp 450.000. Angka ini belum termasuk biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi pengangkutan air.

“Pagi sampai jam 3 subuh itu orang masih ambil air. Biaya bensin juga bertambah, Rp 15.000 sekali ambil air pakai motor,” tambah Aminah, menggambarkan betapa tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan.

Pangkalan Air Beroperasi Penuh Waktu

Di Jalan Barukang, Kelurahan Pattingalloang Baru, sekitar sepuluh rumah warga telah beralih fungsi menjadi pangkalan air bersih. Sumber air mereka berasal dari pipa besar yang dimanfaatkan untuk melayani kebutuhan warga.

Advertisement

Ira, salah seorang penjual air di pangkalan tersebut, menjelaskan bahwa tempatnya beroperasi selama 24 jam penuh untuk melayani ratusan warga dari berbagai penjuru wilayah utara Makassar. “Biasa macet sepanjang jalan karena warga ambil air. Kami buka 24 jam gantian jaga supaya antrean tidak terlalu panjang,” ujar Ira.

Meskipun aktivitas ini mendatangkan keuntungan, Ira menekankan bahwa niat utamanya adalah untuk membantu sesama warga yang sedang mengalami kesulitan. Kondisi geografis di wilayah utara Makassar memang menjadi kendala tersendiri. Pembuatan sumur bor mandiri seringkali terkendala oleh kualitas air tanah yang cenderung berwarna kuning dan memiliki rasa asin.

Pemerintah Siagakan Posko dan Armada

Menanggapi situasi darurat kekeringan ini, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) telah meningkatkan status kesiapsiagaan. Kepala Dinas Damkarmat Makassar, Fadli Wellang, mengonfirmasi pengaktifan tujuh posko siaga di beberapa titik strategis, termasuk Ujung Tanah, KIMA, Tamalanrea, dan Mako Ratulangi.

“Fokus kami adalah potensi kebakaran dan kekeringan. Kami menyiapkan 60 unit armada yang juga akan mem-backup penyaluran air bersih ke masyarakat terdampak,” jelas Fadli.

Meskipun bantuan air dari PDAM dan pemerintah mulai disalurkan, sejumlah warga melaporkan bahwa distribusinya belum merata. Bantuan seringkali baru tiba setelah ada protes atau laporan langsung dari masyarakat yang terdampak.

Advertisement