MAUMERE, KOMPAS.com – Di tengah teriknya matahari Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (22/4/2026), sosok Marten Lena terlihat memasuki halaman kantor redaksi Ekora NTT. Pria asal Kabupaten Sabu Raijua itu memikul dua ember dan beberapa botol berisi nira, beban yang seolah mencerminkan keletihan di wajahnya. “Harga satu botol Rp 15.000, tadi sudah laku dua botol,” ujarnya, memperkenalkan diri sebagai Ama Marten.
Ama Marten, yang kini menetap di Lorong Ayam, Kelurahan Ota Uneng bersama istri dan satu anaknya, telah menjalani hidup yang penuh perjuangan. Keputusannya merantau ke Maumere diambil setelah gempa dahsyat melanda daerahnya pada tahun 1992. “Sudah puluhan tahun saya di sini (Maumere),” kenangnya.
Di awal perjalanannya di Maumere, ia kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Dalam keterbatasan yang ada, Ama Marten menemukan jalan hidupnya sebagai penyadap nira lontar. “Satu-satunya pilihan hidup saya menjadi penyadap nira,” tuturnya.
Sumber Penghidupan dari Pohon Lontar
Pekerjaan ini menuntutnya untuk menyewa pohon lontar dari para pemilik. “Satu pohon lontar disewa Rp 100.000 per bulan,” jelasnya, merinci bahwa saat ini ia menyewa tiga pohon. Dengan demikian, biaya sewa yang harus dikeluarkan Ama Marten setiap bulannya mencapai Rp 300.000.
Nira yang berhasil dikumpulkan kemudian dijual kepada masyarakat sekitar Maumere. “Hasilnya sekitar 15 liter sampai 20 liter sekali panen. Kadang lebih. Dulu banyak pohon yang saya sewa, tapi sekarang hanya tiga pohon,” ungkapnya.
Kendati demikian, hasil dari penjualan nira ini menjadi tulang punggung utama bagi keluarganya. Ia bahkan mampu membeli tanah dan menyekolahkan anaknya dari profesi yang digelutinya ini. Ama Marten mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam atas pekerjaan ini.
“Bagi saya, pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang sangat luar biasa dan saya bersyukur karena Tuhan masih memberi saya kesempatan nafas kehidupan untuk terus berjuang,” tandasnya, mengakhiri ceritanya dengan penuh keyakinan.






