Akses.co.id — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB Jaya), Hercules atau Rosario de Marshall, menyatakan niatnya untuk mendatangi rumah penulis Ahmad Bahar di Depok, Jawa Barat, pada Senin (25/5/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya mencari penyelesaian atas perselisihan yang terjadi antara dirinya dan Ahmad Bahar.
Hercules menegaskan kesiapannya untuk menyelesaikan masalah tersebut secara damai. “Jika ingin diselesaikan secara baik-baik, mari kita selesaikan. Jika ingin dibawa ke ranah hukum, silakan bawa ke ranah hukum,” ujarnya saat konferensi pers di Markas GRIB Jaya, Jakarta Barat, Minggu (24/5/2026) malam. Ia menambahkan, “Bila perlu, besok saya akan mendatangi rumahnya karena dia sendiri yang meminta saya untuk datang.”
Langkah mendatangi rumah Ahmad Bahar ini, menurut Hercules, juga untuk merespons tantangan berdebat yang dilontarkan oleh sang penulis. “Saya akan datang ke rumahnya untuk berdebat. Mengingat dia adalah seorang penulis, biarlah dia berdebat dengan ‘preman’ ini,” katanya.
Hercules juga mengundang awak media untuk meliput langsung kedatangannya ke kediaman Ahmad Bahar. “Teman-teman media silakan jika ingin meliput, besok saya benar-benar akan datang karena dia yang memintanya. Sudah jelas, ya? Saya datang untuk berdebat dengannya,” tegasnya.
Latar Belakang Perselisihan
Perselisihan ini berawal ketika sejumlah anggota GRIB mendatangi rumah Ahmad Bahar di Depok. Kunjungan tersebut dipicu oleh pesan WhatsApp bernada ancaman yang diterima oleh Nia, istri Ahmad Bahar, dari nomor yang diduga milik putri Ahmad Bahar, Ilma Sanu Fitriana (33). Nomor tersebut disebut kerap digunakan oleh Ahmad Bahar.
Dalam pesan tersebut, terlampir sebuah video yang diduga menampilkan Ahmad Bahar di Stasiun Pegaden, Jawa Barat, sambil menantang Hercules untuk berdebat.
Selanjutnya, beberapa anggota GRIB Jaya membawa Ilma ke markas GRIB di Jakarta Barat pada Minggu (17/5/2026) untuk meminta klarifikasi terkait dugaan pengancaman tersebut. Dalam konferensi pers pekan lalu, Ilma mengaku dipaksa ikut meskipun telah menolak. Ia menyebut bahwa orang-orang tersebut memintanya ikut ke kantor GRIB dengan alasan untuk menjamin keamanan situasi di rumah.
Ilma mengaku akhirnya terpaksa ikut ke markas GRIB Jaya setelah Ketua RW dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) di wilayah tempat tinggalnya datang ke lokasi.
Setibanya di markas GRIB Jaya, Ilma diminta menunggu kedatangan Hercules. Ia juga mengklaim mengalami intimidasi verbal dan sempat diminta melepas hijabnya. Dalam kesaksiannya, Ilma juga menyebut Hercules sempat mengeluarkan pistol dan menembakkannya sebanyak dua kali.
Atas kejadian tersebut, Ilma telah melaporkan Hercules ke Polda Metro Jaya atas dugaan penyekapan.
Ikuti Akses.co.id
