Akses.co.id — Ketua Komite Wasit Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Yoshimi Ogawa, menekankan perlunya peningkatan infrastruktur teknologi untuk menjaga integritas kompetisi sepak bola kasta tertinggi Indonesia, Super League 2025-2026. Peningkatan tersebut krusial untuk menunjang optimalisasi kinerja Video Assistant Referee (VAR).
Kebutuhan ini mencuat setelah terjadinya perdebatan mengenai keabsahan gol pertama Dewa United saat menghadapi Persib Bandung di Banten International Stadium pada Senin lalu. Gol yang dicetak oleh Alex Martins menjadi sorotan lantaran bola diduga telah melewati garis lapangan saat dikuasai oleh Alexis Messidoro sebelum proses gol terjadi.
Anggota Komite Wasit menilai, ketersediaan sudut pandang kamera tambahan akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan yang akurat pada momen-momen krusial seperti insiden tersebut. Menurut Ogawa, meskipun kamera di garis gawang bukan persyaratan wajib dalam protokol penggunaan VAR, kehadirannya dapat meningkatkan standar keadilan di lapangan, terutama untuk kejadian yang sulit dipantau secara kasat mata oleh asisten wasit maupun kamera standar penyiaran.
“Sebenarnya kamera garis gawang tidak wajib dalam penggunaan VAR. Tapi kalau ada, tentu akan jauh lebih baik,” kata Ogawa dikutip dari Antara, Kamis (23/4/2026).
Ogawa menyadari bahwa penyediaan fasilitas tambahan ini bergantung pada kesiapan pihak pengelola kompetisi. Ia menambahkan, “Kami tidak bisa memaksakan kepada liga profesional. Namun ke depan, jika ada dua kamera di garis gawang, itu akan membuat keputusan lebih adil bagi semua pihak dalam sepak bola. Tapi posisi kami harus memahami kondisi saat ini. Kami harus mengelola kondisi yang ada.”
Perbandingan dengan Skala Piala Dunia
Lebih lanjut, Ogawa menjelaskan adanya perbedaan signifikan antara jumlah perangkat VAR di liga domestik dengan turnamen internasional besar. Saat ini, kompetisi lokal Indonesia menggunakan 13 titik kamera, sebuah jumlah yang terpaut jauh dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 yang mengoperasikan hingga 50 kamera di setiap pertandingan.
Jumlah kamera yang lebih banyak terbukti sangat membantu dalam meninjau insiden sensitif, seperti gol kedua Jepang ke gawang Spanyol di fase grup Piala Dunia 2022. “Kejadian ini sama seperti waktu Jepang di Piala Dunia 2022,” jelas pria asal Jepang tersebut. Kala itu, teknologi mampu membuktikan bahwa sebagian kecil bola masih menyentuh garis meskipun secara visual terlihat sudah keluar.
Protokol Intervensi Teknologi
Terkait laga antara Dewa United dan Persib Bandung, Ogawa menegaskan bahwa wasit di lapangan telah menjalankan prosedur dengan benar. Tanpa bukti visual yang kuat dan meyakinkan dari rekaman kamera untuk mengubah keputusan, maka ketetapan yang diambil oleh wasit maupun asisten wasit di lapangan harus tetap dihormati.
“Jika wasit atau asisten wasit sudah berusaha mengambil posisi terbaik dan melihat situasi, jika 100 persen yakin bola keluar, maka harus memberi sinyal. Namun jika tidak 100 persen yakin, keputusan di lapangan harus dipertahankan. Kemudian VAR akan mengecek,” jelas Ogawa.
Ia menutup penjelasannya dengan menekankan prinsip dasar operasional teknologi VAR. “Jika VAR tidak menemukan bukti 100 persen bola keluar atau masuk, maka keputusan awal harus tetap dipertahankan. Jika ada bukti 100 persen, barulah direkomendasikan perubahan,” pungkasnya.
Ikuti Akses.co.id
