Akses.co.id — SOLO, KOMPAS.com – Mengisi tangki mobil diesel modern dengan bahan bakar berkualitas rendah, seperti solar industri, dapat memicu serangkaian masalah serius yang mengancam performa dan keawetan mesin dalam jangka panjang. Meskipun mesin mungkin tetap bisa menyala, risiko kerusakan bertahap akan meningkat signifikan.
Jayan Sentanuhady, seorang Dosen Teknik Mesin di Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan pentingnya mematuhi standar minimal bahan bakar yang ditetapkan oleh pabrikan. “Mesin diesel buatan pabrikan sudah ada standar minimal bahan bakar yang boleh dipakai, jangan pakai yang kualitas lebih rendah daripada rekomendasi,” ujarnya kepada KOMPAS.com, Jumat (24/4/2026).
Ia menambahkan, “Ikuti saja anjuran tersebut, kalau seandainya mesin diesel dengan standar solar tinggi, kemudian diberikan standar kualitas solar rendah maka hal buruk akan terjadi.”
Penurunan Performa dan Peningkatan Biaya Perawatan
Dampak paling awal yang terasa adalah penurunan performa. Solar berkualitas rendah memiliki kandungan energi yang berbeda dengan bahan bakar standar, menyebabkan tarikan mesin terasa lebih berat dan responsivitas menurun.
Selain performa, biaya perawatan kendaraan juga berpotensi membengkak. Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dapat memicu peningkatan asap hitam dari knalpot, indikasi pembakaran yang tidak optimal dan sisa bahan bakar yang tidak terbakar sempurna. Endapan dalam sistem bahan bakar juga lebih mungkin terbentuk, menyumbat filter dan menghambat aliran bahan bakar.
“Selain endapan, kandungan air dalam solar juga menjadi masalah serius. Air dapat menyebabkan korosi pada komponen logam di dalam sistem bahan bakar,” jelas Jayan.
Kerusakan Komponen Mesin yang Rentan
Kerusakan akibat solar berkualitas rendah tidak berhenti pada sistem bahan bakar. Komponen sensitif seperti turbocharger dan sistem EGR (Exhaust Gas Recirculation) menjadi rentan terhadap penumpukan jelaga akibat pembakaran yang buruk. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berujung pada mogoknya mesin secara mendadak, yang sangat berbahaya, terutama saat berkendara jarak jauh.
Perbaikan sistem injeksi diesel modern, yang bekerja dengan presisi tinggi, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kerusakan pada injektor, yang sangat sensitif terhadap kotoran dan kandungan air, serta keausan pada pompa bahan bakar bertekanan tinggi akibat kurangnya pelumasan optimal, menjadi konsekuensi nyata.
“Dari sisi biaya, kerusakan akibat bahan bakar yang tidak sesuai bisa sangat mahal. Perbaikan sistem injeksi diesel modern membutuhkan biaya besar,” kata Jayan.
Ia menyimpulkan, “Dari segi keawetan komponen, mobil diesel yang terbiasa diisi solar tak sesuai rekomendasi cenderung rentan mengalami kerusakan.”
Emisi Karbon Tinggi dan Kegagalan Standar Lingkungan
Mobil diesel modern dirancang dengan standar emisi Euro yang tinggi, bertujuan untuk menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dan ramah lingkungan. Namun, penggunaan bahan bakar di bawah standar membuat mobil-mobil ini tidak mampu mencapai performa optimalnya.
“Emisi tetap akan tinggi dengan pemakaian BBM di bawah standar, padahal mobil diesel modern didesain dengan standar Euro tinggi yang lebih ramah lingkungan, ini mustahil dicapai dengan solar kualitas rendah,” tegas Jayan.
Kesimpulannya, mengabaikan rekomendasi pabrikan mengenai jenis bahan bakar untuk mobil diesel modern membawa banyak risiko. Penggunaan solar yang tidak sesuai tidak hanya berdampak pada performa dan biaya perawatan, tetapi juga berpotensi merusak komponen mesin secara permanen dan menggagalkan tujuan ramah lingkungan dari teknologi diesel modern.
Ikuti Akses.co.id
