— Kepanikan melanda jamuan makan malam di Washington Hilton, Amerika Serikat, pada Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat, ketika suara tembakan mendadak terdengar dari arah pintu masuk ballroom. Suasana yang tadinya meriah sontak berubah mencekam, memaksa para tamu untuk segera mencari perlindungan.

Gary O’Donoghue, koresponden utama Amerika Utara untuk BBC dan salah satu saksi mata di lokasi kejadian, menceritakan detik-detik mengerikan tersebut. Awalnya, ia mengaku sempat ragu dengan suara yang didengarnya. “Saya sempat ragu dengan apa yang saya dengar. Tapi dalam hitungan detik, saya menyadari itu suara khas senjata semi-otomatis,” ujarnya, mengutip pemberitaan BBC.

Sebagai penyandang gangguan penglihatan, O’Donoghue sangat mengandalkan pendengarannya. Ia mendengar suara kaca pecah yang disusul kepanikan di sekelilingnya. Tak lama kemudian, ia merasakan rekannya, Daniel, segera menjatuhkan diri ke lantai. Tanpa pikir panjang, O’Donoghue pun mengikuti, berlindung di bawah meja bersama tamu lainnya.

“Saya berlutut di bawah meja, hampir yakin bahwa saya kembali berada di tengah peristiwa penembakan, seperti yang pernah saya alami sebelumnya,” kata O’Donoghue. Ia teringat kembali insiden serupa yang terjadi di Butler, Pennsylvania, pada Juli 2024, di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump nyaris menjadi korban.

Perbedaan Respons dan Kecepatan Tamu

Namun, O’Donoghue menilai situasi kali ini terasa berbeda. Ia mengamati bahwa para tamu bergerak lebih cepat. Dalam hitungan detik setelah suara tembakan terdengar, banyak orang langsung berlindung di bawah meja. Seorang rekannya bahkan menyaksikan puluhan orang berlarian masuk ke ballroom dari koridor luar saat insiden itu terjadi.

Selama sekitar lima hingga sepuluh menit, para tamu tetap bersembunyi di bawah meja, diliputi kekhawatiran bahwa pelaku bersenjata mungkin akan masuk ke dalam ruangan dan menargetkan sekitar 2.500 orang yang hadir malam itu. Di tengah situasi yang mencekam, agen Secret Service terlihat sigap mengevakuasi Presiden Donald Trump, Ibu Negara Melania Trump, serta Wakil Presiden JD Vance dari lokasi acara.

Sementara itu, sejumlah agen lainnya bersiaga dengan perlengkapan lengkap, termasuk helm dan rompi antipeluru, sambil mengarahkan senjata mereka ke arah kerumunan untuk mengantisipasi ancaman lanjutan. O’Donoghue juga sempat melihat sejumlah pejabat penting lainnya di lokasi sebelum kejadian, termasuk Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. yang berada di sebuah ruangan kecil dekat ballroom dan sempat berbincang dengannya. Direktur FBI Kash Patel juga terlihat berlindung di lantai sambil melindungi pasangannya, saat seorang agen Secret Service bergegas memberikan bantuan.

Pertanyaan Seputar Keamanan

Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan di benak O’Donoghue, terutama mengenai bagaimana pelaku bisa mendekati lokasi acara yang dihadiri langsung oleh Presiden. Ia menilai pengamanan di sekitar hotel sebenarnya sudah cukup ketat, dengan adanya penutupan jalan oleh aparat. Namun, ia merasa pengamanan di dalam gedung belum seketat yang seharusnya.

“Petugas di pintu hanya melihat tiket saya sekilas dari jarak beberapa meter,” ujarnya. Ia juga mengaku sempat diperiksa menggunakan alat pemindai logam, tetapi tidak ada pemeriksaan lanjutan meskipun alat tersebut berbunyi akibat barang di sakunya. “Tidak ada yang meminta saya mengeluarkan isi kantong,” katanya.

Menurutnya, pengamanan saat itu terasa seperti jamuan makan malam koresponden Gedung Putih pada umumnya, terutama jika Presiden tidak hadir. Setelah insiden, para tamu sempat tertahan di dalam ballroom dan mengalami kesulitan mendapatkan sinyal telepon untuk mencari informasi maupun melakukan siaran langsung.

O’Donoghue mengaku berusaha menenangkan diri, meski tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. “Ada perasaan yang sulit dijelaskan, ketika Anda mulai memikirkan apa yang bisa saja terjadi, dan berapa kali lagi hal seperti ini harus dialami,” ujarnya.

Keterangan Presiden Trump dan Penyelidikan Lanjutan

Presiden Donald Trump sendiri telah memberikan keterangan terkait insiden penembakan pada jamuan makan malam Gedung Putih tersebut. Ia menyatakan bahwa insiden itu bermula ketika seorang pria bersenjata menyerbu pos pemeriksaan keamanan. Pelaku berhasil dilumpuhkan oleh anggota Secret Service, sementara seorang petugas yang tertembak dilaporkan selamat berkat rompi antipeluru yang dikenakannya.

Pelaku, yang diduga bernama Cole Tomas Allen (31), warga California, telah ditangkap. Aparat penegak hukum masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan balistik dan senjata yang digunakan.