Akses.co.id — Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penanaman padi secara serentak di 38 kabupaten di Jawa Timur. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas produksi pangan menjelang musim kemarau dan meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) secara signifikan.
Gerakan percepatan tanam yang dipusatkan di Kabupaten Ngawi ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Gerakan Kolektif untuk Peningkatan LTT
Inisiator kegiatan, Kepala BBPOPT sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan (SPB) Jawa Timur, Yuris Tiyanto, menekankan pentingnya gerakan ini sebagai upaya kolektif. “Melalui gerakan hari ini diharapkan kenaikan LTT bisa mencapai 3,4% dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya,” ujar Yuris dalam keterangan resmi Kementerian Pertanian, Jumat (24/4/2026).
Yuris menambahkan, percepatan tanam harus dibarengi dengan peningkatan produksi padi. Oleh karena itu, program ini didukung oleh berbagai program intensifikasi. “Program itu harus didukung berbagai program intensifikasi seperti percepatan pengolahan tanah, pompanisasi, optimalisasi irigasi, hingga koordinasi lintas sektor,” jelasnya.
Pantauan Hama dengan Teknologi SIFORTUNA
Dalam upaya menjaga produktivitas, pemantauan hama menjadi krusial. BBPOPT memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Fortifikasi Tanaman Pangan (SIFORTUNA) untuk memprediksi potensi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Sistem ini bahkan telah digunakan oleh Kantor Staf Presiden (KSP) untuk pelaporan kepada presiden.
“Melalui teknologi ini, potensi serangan OPT dapat diprediksi lebih dini sehingga langkah pengendalian bisa dilakukan secara cepat dan tepat,” tutup Yuris.
Jawa Timur Hadapi Tantangan El Nino
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Denny Kurniawan, menyatakan bahwa sektor pertanian saat ini dihadapkan pada tantangan kemarau akibat fenomena El Nino. “Tanam serentak harus diikuti panen serentak. Kita menghadapi tantangan besar El Nino,” kata Denny.
Meski demikian, Jawa Timur terus menunjukkan komitmennya sebagai produsen beras terbesar di Indonesia selama enam tahun terakhir.
Prediksi El Nino dan Dampaknya
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengingatkan potensi dampak fenomena El Nino Godzilla terhadap sektor pertanian dan sumber daya air. Namun, BRIN juga mencatat bahwa dampak El Nino tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, justru berpotensi mengalami curah hujan tinggi.
BRIN memprediksi El Nino akan beriringan dengan musim kemarau, yang diperkirakan berlangsung dari April hingga Oktober.
Ikuti Akses.co.id
