Akses.co.id — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti) memproyeksikan Indonesia akan mengalami kelebihan pasokan dokter pada tahun 2028. Proyeksi ini muncul di tengah upaya pemerintah untuk menambah jumlah tenaga medis guna mengatasi defisit yang ada.
Sekretaris Jenderal Kemendikti, Badri Munir Sukoco, mengungkapkan kekhawatiran ini saat berbicara dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga pada Kamis (23/4/2026). Ia menyatakan, “Saya bisa cek juga misalnya tahun 2028 itu sebenarnya kita sudah oversupply dokter kalau misalnya ini dibiarkan. Oversupply dokter itu kalau misalnya kita pakai standar minimal dari World Bank ya.”
Badri menambahkan bahwa masalah ini diperparah dengan adanya maldistribusi tenaga medis. “Apalagi terjadi maldistribusi ya, tidak keseimbangan distribusi di masing-masing daerah,” katanya.
Evaluasi Program Studi
Dalam pidatonya, Badri memaparkan rencana Kemendikti untuk mengevaluasi dan menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan pasar di masa depan. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri.
“Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini,” ujar Badri.
Menurutnya, saat ini banyak perguruan tinggi cenderung mengadopsi strategi yang digerakkan oleh pasar (market driven strategy), yaitu membuka prodi berdasarkan tren bidang ilmu atau pekerjaan yang sedang populer. Namun, pendekatan ini seringkali berujung pada kelebihan pasokan lulusan di bidang tersebut.
Kelebihan Lulusan Keguruan
Selain isu kelebihan pasokan dokter, Badri juga menyoroti ketidaksesuaian antara jumlah lapangan kerja dengan jumlah lulusan di bidang keguruan. Ia menyebutkan, “Kita meluluskan tiap tahun 490.000 dari kependidikan. Sedangkan pada waktu yang sama, lowongan untuk calon guru dan fasilitator di taman kanak-kanak hanya 20.000. Jadi yang 470.000 tidak punya pekerjaan.”
Target Penambahan Dokter
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto sejak tahun 2025 secara konsisten menekankan bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga dokter, baik dokter spesialis maupun dokter umum. Produksi dokter spesialis saat ini hanya mencapai sekitar 2.700 orang per tahun.
Menyikapi hal ini, Presiden Prabowo telah menginstruksikan Menteri Kesehatan dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk segera menambah jumlah Fakultas Kedokteran, Akademi Keperawatan, dan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
“Target saya akan ada 30 fakultas kedokteran baru insyaallah untuk mengejar tadi 70 ribu spesialis dan dokter umum kekurangannya adalah 140 ribu. Kalau tidak ya kita tunggu 35 tahun,” ungkap Presiden saat peresmian Gedung Layanan Terpadu dan Institut Neurosains Nasional Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono, Jakarta, pada Selasa (26/8/2025), seperti dikutip dari situs Sekretariat Negara.
Pada November 2025, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menyatakan kesiapan Indonesia untuk membuka 150 prodi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
“Program dari para pemerintahan dari Pak Prabowo, Pak Gibran ini adalah mempercepat pendidikan dan bahkan sekarang dilakukan adalah memberikan pendidikan spesialis itu diambil dari putra-putra daerah dan gratis pembiayaannya ditanggung Kementerian Kesehatan,” ujar Wamenkes di Jakarta, dilansir Antara, Selasa (25/11/2025).
“Tadi saya pagi-pagi rapat di Mendikti, kita akan buka lagi 150 prodi spesialis untuk menciptakan spesialis. Untuk bisa dikirim ke 514 kabupaten/kota,” sambung Benjamin.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah juga telah membuka PPDS di 11 provinsi yang sebelumnya belum memiliki program tersebut. Salah satu contohnya adalah Universitas Cendrawasih yang mulai membuka PPDS pertama di Pulau Papua, yaitu Anestesiologi dan Terapi Intensif, pada Februari 2026.
Ikuti Akses.co.id
