Kemacetan yang kerap melanda kawasan Senopati, Jakarta Selatan, khususnya pada malam hari, memicu keluhan warga. Praktik parkir liar di bahu jalan dan trotoar disebut sebagai biang kerok utama tersendatnya arus lalu lintas di Jalan Gunawarman hingga Jalan Suryo.
Warga sekitar melaporkan bahwa kondisi ini telah berlangsung cukup lama. Kendaraan yang diparkir di sisi jalan, termasuk oleh layanan valet dari sejumlah tempat hiburan, menyempitkan ruang gerak kendaraan dan memicu antrean panjang, terutama saat jam sibuk.
Keterbatasan lahan parkir di beberapa tempat usaha di kawasan tersebut turut memperparah situasi. Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa banyak pengunjung datang dengan kendaraan pribadi, sementara kapasitas parkir di lokasi sangat terbatas. Akibatnya, kendaraan kerap dialihkan ke area yang tidak semestinya, termasuk trotoar.
Sebagian besar tempat hiburan di Senopati hanya menyediakan kapasitas parkir terbatas di bagian depan bangunan. Hal ini membuat bahu jalan sering dimanfaatkan sebagai lokasi parkir sementara, yang pada akhirnya berdampak buruk pada kelancaran lalu lintas.
Asosiasi Parkir Indonesia: Senopati Bukan Kasus Tunggal
Menanggapi persoalan ini, Ketua Asosiasi Parkir Indonesia, Rio Octaviano, menilai bahwa kemacetan di Senopati bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia mengemukakan bahwa praktik serupa juga terjadi di sejumlah titik lain di Jakarta yang pesat perkembangannya sebagai pusat bisnis, namun tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan parkir yang memadai.
“Sebetulnya Senopati hanya satu dari beberapa titik di Jakarta yang memiliki banyak usaha tapi tidak memiliki lahan parkir,” ujar Rio kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Rio menambahkan bahwa saat ini Dinas Perhubungan DKI Jakarta tengah berupaya menindaklanjuti persoalan parkir di Senopati dengan melibatkan Asosiasi Parkir Indonesia. Hasil pembahasan tersebut nantinya akan disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta untuk menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.
“Saat ini Kepala Dinas Perhubungan yang baru sedang menindaklanjuti permasalahan parkir ini bekerja sama dengan IPA, dan kemudian akan disampaikan kepada Gubernur,” kata dia.
Menurut Rio, perhatian terhadap masalah parkir ini sebenarnya sudah mulai terlihat di tingkat pemerintah daerah. Pembahasan lebih lanjut pun disebut akan dilakukan secara intensif, mengingat solusi yang dibutuhkan tidak dapat bersifat parsial.
“Gubernur melalui stafsusnya sebetulnya sudah concern, dan akan melakukan pembahasan intensif tentang ini, karena memang solusinya harus komprehensif dan melibatkan banyak pihak,” ujar Rio.
Diskusi Terbatas Siap Digelar
Sebagai langkah awal, Asosiasi Parkir Indonesia berencana menggelar diskusi terbatas pada bulan Mei mendatang. Agenda utama diskusi tersebut adalah membahas persoalan parkir, sekaligus mengaitkannya dengan isu keselamatan jalan di kawasan perkotaan.
“Kami berencana Mei ini akan melakukan diskusi terbatas tentang ini dan keselamatan jalan,” kata Rio.






