— Kebiasaan membaca buku menjadi kunci kesuksesan Grandprix Thomryes Marth Kadja, seorang doktor kimia yang pernah dinobatkan sebagai doktor kimia termuda di Indonesia. Pria asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2018 atas prestasinya tersebut.

Bagi Grandprix, buku adalah fondasi fundamental dalam membangun kapasitas intelektual. Ia menekankan bahwa kemampuan menulis dan memublikasikan hasil riset sangat erat kaitannya dengan kebiasaan membaca. “Menulis itu manifestasi dari membaca. Kita tidak bisa menyusun gagasan tanpa terlebih dahulu memahami berbagai pemikiran dari apa yang kita baca,” ujar Grandprix, mengutip laman ITB, Minggu (26/4/2026).

Hobi Membaca Sejak Dini

Sejak usia belia, Grandprix sudah terbiasa membaca beragam jenis buku, mulai dari buku pelajaran, sains populer, hingga komik. Kebiasaan ini secara perlahan menumbuhkan rasa ingin tahunya dan memperkaya cara berpikirnya.

Ia berpendapat bahwa membaca adalah sebuah proses mendalami cara berpikir sang penulis. Melalui kegiatan membaca, seseorang dapat memahami alur logika, hubungan sebab-akibat, serta membedakan antara argumen dan opini. “Semakin banyak kita membaca, semakin kita sadar bahwa pengetahuan itu selalu membuka ruang untuk pertanyaan dan pengembangan baru,” ungkap Grandprix.

Kebiasaan ini juga melatih individu untuk mengolah dan menggabungkan gagasan-gagasan menjadi ide-ide baru. Kemampuan analisis pun menjadi semakin kuat, sebuah bekal penting bagi seorang ilmuwan. “Buku mengajak kita masuk ke kedalaman pemikiran penulis, sementara informasi singkat sering kali hanya bersifat permukaan,” jelas Grandprix.

Membaca buku juga bermanfaat untuk melatih fokus dan kesabaran dalam memahami suatu persoalan secara menyeluruh.

Capaian Sebagai Ilmuwan

Grandprix berhasil meraih gelar doktor pada usia yang terbilang muda, 24 tahun. Ketertarikannya pada ilmu kimia tumbuh sejak masa sekolah.

Berkat risetnya di bidang nanomaterial, Grandprix juga masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 yang dirilis oleh Stanford University dan Elsevier. Konsistensi dalam riset dan publikasi ilmiah menjadi kunci utama dari berbagai capaian tersebut.

Selain itu, ia juga pernah menerima Penghargaan Achmad Bakrie ke-20 kategori Ilmuwan Muda. Apresiasi sebagai dosen muda dengan publikasi Q1 terbanyak di ITB dan dosen berprestasi di tingkat fakultas juga kerap diraihnya.

“Penghargaan itu sebenarnya hanyalah bonus dari konsistensi dalam meneliti dan menulis,” ungkapnya.

Rekomendasi Bacaan

Dalam lingkup pendidikan tinggi, membaca buku berkaitan erat dengan budaya ilmiah di kampus. Grandprix menekankan pentingnya kesadaran diri mahasiswa untuk menumbuhkan minat baca, serta mengajak mereka untuk terus membiasakan diri membaca.

“Teruslah membaca secara mendalam. Kemampuan untuk fokus dan berpikir dalam justru menjadi kekuatan yang langka dan berharga,” pesan Grandprix.

Beberapa rekomendasi bacaan darinya untuk mahasiswa antara lain adalah The Art of War karya Sun Tzu, Hidden Potential karya Adam Grant, Ikigai karya Hector Garcia dan Francesc Miralles, serta Atomic Habits karya James Clear.