Bola

Kawinkan Gelar Piala Thomas-Uber, Hanya Indonesia dan China yang Bisa

Advertisement

Sejak format penyelenggaraan gabungan Piala Thomas dan Uber diterapkan pada 1984, hanya dua negara yang mampu mengukir sejarah dengan meraih kedua gelar bergengsi tersebut dalam satu edisi: China dan Indonesia. Prestasi ini kembali menjadi sorotan, terutama setelah China berhasil mengawinkan gelar pada edisi 2024, menyamai capaian Indonesia di masa lalu.

Sejarah Kawin Gelar Piala Thomas-Uber

Sebelum 1984, Piala Thomas dan Piala Uber diselenggarakan secara terpisah setiap tiga tahun sekali. Perubahan format ini membuka peluang bagi sebuah negara untuk meraih kedua gelar beregu paling prestisius di dunia bulu tangkis dalam satu waktu. Sepanjang sejarahnya, dominasi China di sektor putri dan catatan emas Indonesia di Piala Thomas telah menciptakan momen-momen bersejarah ini.

China, yang lebih sering mendominasi Piala Uber, tercatat delapan kali berhasil mengawinkan gelar. Prestasi tersebut diraih pada tahun 1986, 1988, 1990, 2004, 2006, 2008, 2012, dan yang terbaru pada 2024. Pada dua tahun lalu, China menunjukkan superioritasnya dengan mengalahkan Indonesia di final Piala Thomas (3-1) dan Piala Uber (3-0).

Sementara itu, Indonesia pernah dua kali mencapai puncak kejayaan dengan mengawinkan gelar Piala Thomas-Uber, yakni pada edisi 1994 dan 1996. Kedua momen tersebut menandai era keemasan bulu tangkis Indonesia di dekade 1990-an.

Indonesia di Puncak Kejayaan: 1994 dan 1996

Piala Thomas-Uber 1994

Dihelat di Jakarta, tepatnya di Istora Senayan yang legendaris, Indonesia berhasil mengukir sejarah dengan meraih kedua gelar. Tim Thomas saat itu diperkuat oleh nama-nama besar seperti Ardy B. Wiranata, Joko Suprianto, Hariyanto Arbi, dan Hermawan Susanto di sektor tunggal. Sektor ganda diisi oleh Eddy Hartono, Rudy Gunawan, Rexy Mainaky, Ricky Subagja, dan Bambang Suprianto.

Tim Uber pun tak kalah tangguh, diperkuat oleh peraih medali emas Olimpiade 1992, Susy Susanti, bersama Yuni Kartika, Yuliani Santosa, dan Mia Audina di sektor tunggal. Sektor ganda dihuni oleh Eliza Nathanael, Zelin Resiana, Finarsih, Lili Tampi, dan Rosiana Tendean.

Indonesia tampil dominan di Piala Thomas, membungkam Malaysia dengan skor telak 3-0 di final. Kemenangan tersebut disumbangkan oleh Hariyanto Arbi, pasangan Rudy Gunawan/Bambang Suprianto, dan Ardy Wiranata.

Advertisement

Perjalanan Tim Uber lebih dramatis. Indonesia harus berjuang keras untuk mengalahkan China dengan skor tipis 3-2 di final. Susy Susanti dan pasangan Finarsih/Lili Tampi sempat membawa Indonesia unggul 2-0, namun China berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Penentuan juara jatuh pada partai kelima, di mana Mia Audina yang baru berusia 14 tahun menjadi pahlawan dengan mengalahkan Zhang Ning.

Piala Thomas-Uber 1996

Berselang dua tahun, Indonesia kembali mengulang prestasi gemilang tersebut di Hong Kong. Komposisi tim tidak banyak berubah. Tim Thomas diperkuat oleh Hariyanto Arbi, Ardy B. Wiranata, Joko Suprianto, dan Alan Budikusuma di sektor tunggal, serta Rexy Mainaky, Ricky Subagja, Rudy Gunawan, Bambang Suprianto, Denny Kantono, dan Antonius Budi Ariantho di sektor ganda.

Tim Uber diperkuat Susy Susanti, Mia Audina, Yuliana Santosa, Lidya Djaelawijaya, dan Meiluawati di sektor tunggal, serta Eliza Nathanael, Zelin Resiana, Finarsih, Lili Tampi, dan Deyana Lomban di sektor ganda.

Di Piala Thomas, Indonesia meraih kemenangan telak 5-0 atas Denmark di final. Joko Suprianto, pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Hariyanto Arbi, pasangan Rudy Gunawan/Bambang Suprianto, dan Alan Budikusuma tampil tanpa cela.

Sementara itu, di Piala Uber, Indonesia kembali mengalahkan China di final dengan skor yang lebih meyakinkan, 4-1. Kemenangan diraih oleh Susy Susanti, Mia Audina, pasangan Finarsih/Lili Tampi, dan Meiluawati. Pasangan Eliza Nathaniel/Zelin Resiana harus mengakui keunggulan lawan di laga kedua.

Advertisement