Akses.co.id — Kasus bunuh diri yang diduga dipicu oleh game Omori di Bali memantik perhatian publik. Seorang siswi kelas 6 SD di Denpasar dilaporkan melompat dari lantai 3 gedung pasar, dan pihak kepolisian menduga ada kaitan dengan permainan daring tersebut.
Namun, para ahli psikologi menekankan bahwa menyalahkan satu elemen digital semata sebagai penyebab tunggal tindakan ekstrem seperti itu adalah kurang tepat. Menurut Psikolog Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu, MPsi, perilaku tersebut umumnya merupakan akumulasi dari berbagai faktor.
“Hal ini dikarenakan perilaku tersebut umumnya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, terutama adanya indikasi tekanan emosional, kondisi kesehatan mental anak, serta minimnya dukungan sosial,” kata Diah pada Jumat (24/4/2026).
Diah menjelaskan bahwa konten digital, termasuk permainan daring, memang memiliki potensi untuk memengaruhi emosi dan pola pikir anak. Akan tetapi, peran game tersebut bukanlah satu-satunya penentu.
“Namun memang sebuah konten digital maupun game dapat memengaruhi emosi dan pola pikir. Namun, penting ditekankan bahwa game di sini bukanlah penyebab tunggal,” ujarnya.
Oleh karena itu, Diah menekankan pentingnya deteksi dini dan pendampingan yang komprehensif terhadap anak. Perubahan perilaku yang drastis, penarikan diri dari lingkungan, atau emosi yang tidak stabil perlu segera direspons oleh orang tua dan orang-orang di sekitar anak.
“Lalu, komunikasi yang terbuka juga menjadi kunci pencegahan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental anak dan remaja perlu mendapat perhatian serius, dengan pendekatan yang komprehensif,” tegas Diah.
Kronologi Versi Kepolisian
Peristiwa tragis ini terjadi pada Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 17.00 Wita. Korban, seorang siswi berinisial KA (13 tahun), dilaporkan melompat dari lantai 3 Pasar Desa Serangan, Denpasar.
Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol Agus Riwayanto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk kepentingan korban. Tim siber juga dilibatkan untuk melakukan pengecekan digital forensik.
“Kami sudah koordinasi dengan PPA dan Kominfo dan untuk kepentingan korban. Dari kami ada cyber untuk pengecekan terkait digital forensik,” ungkap Kompol Agus Riwayanto di Denpasar, Kamis (23/4/2026).
Penyelidikan intensif terus dilakukan dengan dukungan tim siber Polda Bali. Ponsel yang diduga digunakan untuk merekam korban saat kejadian juga telah diamankan.
Pihak kepolisian memastikan tidak ada indikasi perundungan (bullying) dalam kasus ini. Namun, hasil penyelidikan awal mengindikasikan bahwa motif di balik tindakan korban berkaitan dengan salah satu permainan daring, yaitu Omori.
“Berdasarkan hasil konsultasi pihak Kepolisian dengan psikolog, disebutkan bahwa ada sedikitnya peran game tersebut sehingga korban ingin mencoba,” jelas Kompol Agus Riwayanto.
Ia menambahkan, awalnya korban sedang membuat video berjoget yang direkam oleh temannya. Tiba-tiba, korban berlari dan langsung melompat dari ketinggian lantai 3 pasar tersebut.
Pasca kejadian, korban sempat tidak sadarkan diri namun kini telah sadar kembali. Ia mengalami patah tulang pada kedua kakinya dan tangan kanan. Korban telah menjalani operasi di Rumah Sakit Bali Mandara dan masih dalam masa pemulihan fisik dan psikologis.
Menyikapi peristiwa ini, kepolisian mengimbau orang tua untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap konsumsi konten digital anak-anak, terutama permainan daring dan hal-hal lain yang dapat diakses secara daring.
Ikuti Akses.co.id
