Akses.co.id — Kasus dugaan penganiayaan dan penelantaran anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Yogyakarta, baru-baru ini menjadi sorotan publik dan pengingat penting bagi orang tua dalam memilih tempat penitipan anak. Insiden ini menyoroti krusialnya proses seleksi lokasi pengasuhan pengganti, yang idealnya tidak hanya menjadi tempat menitipkan anak saat orang tua bekerja, tetapi juga ruang aman dan nyaman untuk tumbuh kembang optimal. Mengenali tanda bahaya atau red flag sejak awal survei menjadi langkah krusial.
Empat Tanda Bahaya yang Wajib Diwaspadai Saat Survei Daycare
Manajer Operasional HappyKids Daycare, Devianty, menekankan pentingnya kehati-hatian orang tua dalam memilih daycare. Ia memaparkan beberapa indikator yang perlu dicermati untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan anak.
1. Lingkungan yang Tidak Ramah Anak
Devianty mengungkapkan bahwa red flag pertama yang harus diwaspadai adalah lingkungan yang kurang sehat. “Red flag pertama mungkin dari lingkungan yang kurang sehat,” ujarnya saat diwawancarai di Depok.
Lingkungan yang dimaksud mencakup lokasi yang terlalu dekat dengan jalan raya, tempat pembuangan akhir sampah, atau area dengan aktivitas pembakaran sampah oleh penduduk sekitar. “Terutama daycare yang lokasinya dekat banget dengan jalan raya. Berarti itu kan polusi. Dan untuk faktor keamanan, saya rasa kurang,” jelas Devianty.
Selain posisi geografis, sistem pengamanan di sekitar area daycare juga perlu dievaluasi untuk mencegah masuknya pihak luar yang tidak berkepentingan ke area bermain anak.
2. Rasio Pengasuh dan Sikap yang Buruk
Rasio yang tidak seimbang antara jumlah pengasuh dan anak asuh menjadi tanda bahaya berikutnya. Angka ideal yang disarankan adalah satu pengasuh untuk maksimal empat hingga lima anak.
Rasio yang terlalu besar berpotensi menyebabkan kebutuhan dasar anak, seperti makan, bermain, dan belajar, tidak terpenuhi secara maksimal, yang dapat berujung pada penelantaran. Devianty menambahkan bahwa kualitas interaksi personal juga sangat penting.
“Dari sikap pengasuhnya, dan kadang kalau pembawaan dan mukanya judes, cuek, itu juga perlu diwaspadai. Karena dari ekspresi wajah, gerak tubuh, suka terlihat (tidak ramah ke anak),” ungkap Devianty.
3. Fasilitas Fiktif dan Kurang Transparan
Banyak daycare yang menampilkan promosi menarik di media sosial, namun kenyataannya tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Devianty menyarankan pentingnya melakukan kunjungan fisik secara langsung.
“Cek apakah fasilitasnya sesuai atau tidak, apakah lokasinya, lingkungannya, dan keamanannya sesuai atau tidak. Ini untuk menghindari kalau cuma survei lewat online, sudah bayar dan segala macam, ternyata di lokasinya enggak ada,” katanya.
Selain itu, pihak pengelola harus bersikap transparan dan terbuka terhadap pertanyaan penting dari calon klien, termasuk memberikan izin untuk meninjau area persiapan makanan.
4. Tak Ada Izin Operasional Resmi
Ketiadaan legalitas dari pemerintah merupakan pelanggaran paling fatal yang tidak dapat ditoleransi, sebagaimana yang terjadi pada kasus di Yogyakarta. Nomor izin operasional menjadi bukti bahwa lembaga tersebut beroperasi secara resmi dan telah memenuhi standar kelayakan pendidikan serta keamanan dari dinas terkait.
Ikuti Akses.co.id
