Akses.co.id — WONOGIRI, KOMPAS.com – Sebuah bangunan unik di Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, mendadak viral dan menarik perhatian warga serta warganet. Bangunan tersebut, yang sekilas tampak seperti bus tingkat besar yang sedang terparkir, ternyata adalah sebuah rumah tinggal milik Supardi (43), warga setempat yang akrab disapa Bagong atau BG.
Rumah bergaya arsitektur bus ini mulai dibangun Supardi pada Februari 2026, bertepatan dengan awal bulan puasa. Konsep desain yang tidak biasa ini sengaja dipilih agar memiliki daya tarik tersendiri. “Saya ingin rumah ini tidak sama dengan yang lain. Kalau unik, bisa jadi daya tarik wisata, bukan hanya untuk desa tapi juga kecamatan hingga kabupaten,” ujar Supardi saat ditemui di rumahnya, Kamis (24/4/2026).
Meskipun pembangunan baru berjalan sekitar enam minggu, rumah yang menyerupai dua bus yang diparkir berdampingan ini baru mencapai 50-60 persen. Dana yang dimiliki Supardi sudah habis, sehingga ia kini tengah mencari tambahan dana untuk melanjutkan proyeknya. “Sekarang masih seperti ini karena dana sudah habis. Untuk melanjutkan pembangunan, saya masih mencari tambahan dana, baik dari usaha sendiri maupun bantuan pihak lain,” ungkapnya.
Konsep Unik Terinspirasi Bus AKAP
Supardi, yang berprofesi sebagai tukang bangunan dan pemborong berpengalaman, merancang sendiri desain rumahnya. Inspirasi datang dari pengalamannya yang kerap bepergian ke Jakarta menggunakan bus PO Agra Mas. Ia ingin rumahnya menyerupai armada bus tersebut.
Bangunan utama rumah memiliki lebar sekitar 4 meter, tinggi 5 meter, dan panjang mencapai 13 meter. Desain interiornya sengaja dibuat menyerupai bus tingkat, lengkap dengan deretan jendela di sisi kiri dan kanan yang memaksimalkan pencahayaan alami. Sirkulasi udara pun diperhatikan dengan baik melalui ketinggian bangunan dan dua pintu di bagian depan serta belakang, sehingga ruangan utama tetap sejuk di siang hari.
Bagian utama rumah difungsikan sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Di lantai atas, terdapat ruang kecil menyerupai mezanin yang digunakan sebagai kamar tidur. Sementara itu, bangunan di sisi kiri yang berbentuk bus ukuran sedang direncanakan untuk ruang makan dan dapur. Namun, tahap akhir atau finishing kedua bangunan ini belum bisa diselesaikan karena kendala biaya.
Supardi juga berencana untuk meminta izin kepada pihak PO Agra Mas terkait penggunaan desain bus dalam pembangunan rumahnya.
Biaya dan Respons Warga
Hingga saat ini, total biaya yang telah dikeluarkan Supardi untuk pembangunan rumah ini mencapai sekitar Rp 125 juta. Angka tersebut mencakup pembelian material dan upah enam pekerja selama enam minggu.
Di awal pembangunan, desain rumah yang tidak lazim ini sempat membuat bingung tetangga. Supardi menceritakan, banyak warga yang bertanya-tanya mengenai konsep pembangunan yang tidak mengikuti kebiasaan, seperti tanah yang tidak diratakan sepenuhnya sebelum pemasangan rangka besi. “Biasanya tanah diratakan dulu sebelum dibuat fondasi. Tapi ini tidak, ada yang tinggi dan rendah, jadi terlihat aneh. Banyak yang bertanya-tanya saya mau bikin apa,” ujarnya.
Kebingungan tersebut perlahan terjawab seiring dengan mulai terbentuknya wujud bangunan. “Awalnya ada yang bilang, masa bikin rumah seperti itu. Tapi setelah mulai jadi, mereka baru paham,” kata Supardi.
Kini, respons warga telah berubah menjadi dukungan. Lingkungan sekitar bahkan turut memberikan semangat dan terkadang membantu proses pembangunan. “Sekarang justru banyak yang mendukung. Alhamdulillah, lingkungan juga ikut memberi semangat, bahkan kadang membantu pekerjaan,” tutupnya.
Ikuti Akses.co.id
