Megapolitan

Kartini dari Cikuya Tangerang: Siti Bangkit dari PHK lewat Batik

Advertisement

TANGERANG, KOMPAS.com – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Cikuya, Solear, Kabupaten Tangerang, deretan kain batik berwarna cerah tergantung rapi. Motif-motif yang tergambar di atas kain hitam, cokelat, biru, hingga ungu ini bukan sekadar corak, melainkan cerita yang lahir dari tangan-tangan perempuan setempat. Mulai dari motif kera yang terinspirasi dari Makam Keramat Solear, siluet gubuk di Tebing Koja, hingga monumen di Tigaraksa, setiap goresan canting menyimpan narasi kearifan lokal.

Siang itu, suasana di Galeri Rumah Batik Cikuya sedikit lengang, para perajin tengah beristirahat. Namun, jejak kerja mereka terasa kental, menjadi bukti bahwa harapan dapat dirajut bahkan di tengah keterpurukan. “Ini semua hasil karya ibu-ibu di sini,” ujar Siti Nurrofiqoh (51), penggagas Rumah Batik Cikuya, saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa (22/4/2026).

Siti Nurrofiqoh: Dari PHK Menjadi Penggerak Ekonomi Perempuan

Pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi Siti. Ketika pabrik-pabrik berhenti beroperasi dan banyak perempuan kehilangan pekerjaan, ia melihat situasi itu bukan hanya sebagai krisis, tetapi sebagai panggilan untuk bertindak. “Banyak yang di-PHK, bingung harus bagaimana. Dari situ saya berpikir, perempuan harus punya kemandirian ekonomi,” katanya.

Dari Buruh Pabrik ke Penggerak Ibu-ibu

Perjalanan Siti dalam memperjuangkan perempuan dimulai jauh sebelum pandemi. Sejak 1993, ia malang melintang di dunia pabrik, menyaksikan berbagai pelanggaran hak buruh. Pengalaman ini mendorongnya aktif dalam gerakan serikat pekerja hingga akhirnya memilih berhenti bekerja pada 2013. Meski demikian, semangat memperjuangkan sesama tak pernah padam.

Ketika pandemi melanda, Siti melihat kondisi yang dulu pernah ia alami kini dirasakan banyak perempuan di sekitarnya: kehilangan pekerjaan, minim keterampilan, dan kebutuhan hidup yang tetap harus dipenuhi. Alih-alih berdiam diri, ia memilih bergerak.

Berawal dari Enam Pembatik

Langkah awal Siti sangat sederhana. Ia mengajak enam perempuan di lingkungannya untuk belajar membatik. Ajakan itu disampaikan secara informal, melalui pengajian, arisan, hingga pertemuan warga. Upaya ini tentu tidak mudah, Siti harus meyakinkan para ibu di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Keraguan sempat menghampiri benaknya sendiri.

“Saya selalu menjawab keraguan dengan melakukan. Kalau tidak dilakukan, kita tidak akan pernah tahu hasilnya,” ujar Siti Nurrofiqoh.

Perlahan, ajakan itu membuahkan hasil. Dari enam orang, jumlah perajin kini bertambah menjadi 16 orang. Menariknya, beberapa di antaranya adalah generasi muda (Gen Z) yang tertarik mempelajari batik. “Awalnya mereka tidak punya skill membatik. Sekarang sudah bisa, bahkan ikut mengerjakan pesanan dan tampil saat bazar,” tutur Siti.

Membatik, dari Keterampilan ke Penghasilan

Di Rumah Batik Cikuya, membatik bukan sekadar kegiatan seni, melainkan sarana belajar sekaligus sumber penghasilan bagi para ibu. Siti melatih para anggota mulai dari dasar menggambar pola, mengontrol aliran malam, hingga menjaga konsistensi motif. Proses ini membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan waktu yang tidak singkat, namun hasilnya mulai terlihat.

Advertisement

Pantauan Kompas.com di lokasi, galeri Rumah Batik Cikuya memajang berbagai produk, mulai dari kain batik, pakaian jadi, hingga aksesori yang siap dipasarkan baik secara langsung maupun melalui platform digital. “Kalau ada pesanan, mereka yang mengerjakan. Jadi tetap jalan,” kata Siti.

Siti menekankan bahwa memiliki keterampilan saja tidak cukup. Para perempuan juga didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan media sosial untuk pemasaran. “Sekarang tidak cukup hanya punya skill, tapi juga harus bisa berjejaring dan mengikuti perkembangan zaman,” tegasnya.

Batik sebagai Cerita dan Identitas Lokal

Batik Cikuya memiliki ciri khas yang membedakannya dari daerah lain. Motif yang diangkat berasal dari kearifan lokal setempat, seperti motif kera yang terinspirasi dari legenda Makam Keramat Solear, Tebing Koja yang menggambarkan lanskap alam, hingga Tugu Tiga Tumenggung yang sarat nilai sejarah dan kepahlawanan.

“Batik itu medium untuk bercerita. Kita ingin cerita-cerita lokal ini tetap hidup,” ujar Siti. Melalui motif-motif tersebut, batik menjadi lebih dari sekadar produk; ia menjadi identitas sekaligus cara untuk mengenalkan Cikuya ke luar.

Bangkit di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Perjalanan Rumah Batik Cikuya tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi wilayah Cikuya yang masih menghadapi persoalan kemiskinan. Bagi Siti, realitas ini justru menjadi alasan untuk terus bergerak.

“Rumah Batik Cikuya ini kami harapkan bisa menjadi penggerak ekonomi lokal, khususnya bagi perempuan,” kata Siti. Kini, perubahan mulai terasa. Perempuan yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, perlahan mampu menghasilkan karya yang bernilai jual. Lebih dari itu, mereka mendapatkan kembali rasa percaya diri lewat kesenian membatik.

Di tangan para perempuan ini, canting dan kain bukan sekadar alat dan bahan. Ia adalah simbol perjuangan tentang bagaimana dari keterpurukan, mereka bisa menjahit masa depan mereka sendiri.

Advertisement