Money

KAI Siapkan Lokomotif Berbasis Diesel untuk Percepat Implementasi B50

Advertisement

PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah mempersiapkan armada operasionalnya, khususnya lokomotif diesel, untuk menyambut pemberlakuan mandatori biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026 di seluruh sektor. Kebijakan ini merupakan inisiatif pemerintah untuk memperkuat kedaulatan energi nasional sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa implementasi B50 ini merupakan kelanjutan dari program penggunaan biodiesel yang telah konsisten diterapkan di sektor perkeretaapian. “Implementasi B50 merupakan kelanjutan dari pemanfaatan biodiesel pada tahap sebelumnya yang telah berjalan secara konsisten di sektor perkeretaapian,” ujar Anne dalam keterangan resminya pada Kamis (23/4/2026).

Dampak Lingkungan dan Perbandingan Emisi

Penggunaan biodiesel B40 pada tahun 2025 dilaporkan berhasil menekan emisi karbon hingga 127,3 juta kilogram CO2e atau setara 127.300 ton, dengan total 47,4 juta pelanggan kereta api jarak jauh. Tren positif ini terus berlanjut di tahun 2026. Hingga triwulan pertama tahun ini, KAI telah melayani 14,5 juta pelanggan, dengan estimasi emisi yang tercatat sekitar 38.900 ton CO2e.

KAI secara konsisten membandingkan jejak emisi transportasi kereta api dengan kendaraan pribadi. Data menunjukkan bahwa rata-rata emisi kendaraan pribadi mencapai 36 hingga 45 kg CO2 per penumpang untuk jarak menengah, sementara kereta api hanya berkisar 2,7 kg CO2 per penumpang. “Ini menunjukkan bahwa penggunaan kereta api mampu menekan emisi hingga sekitar 90 persen per perjalanan,” ungkap Anne.

Dengan jumlah pelanggan yang dilayani, penggunaan kereta api diperkirakan mampu mengurangi emisi sebesar 480.000 hingga 610.000 ton CO2e jika dibandingkan dengan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

Serangkaian Uji Coba untuk Kesiapan B50

Untuk memastikan kesiapan operasional, KAI telah melaksanakan serangkaian uji coba. Uji coba ini dilakukan bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Lembaga Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS). Proses pengujian dimulai dengan pencampuran bahan bakar pada pertengahan April 2026, dilanjutkan dengan pengecekan kondisi sarana dan pengujian penggunaan bahan bakar pada lokomotif di Depo Sidotopo, serta kereta pembangkit di Depo Kereta Yogyakarta.

Advertisement

Rangkaian pengujian meliputi pemeriksaan awal, penggunaan B40 sebagai bahan pembanding, dan kemudian penggunaan B50. Fokus pengujian adalah untuk mengevaluasi kinerja sarana dan ketahanannya dalam kondisi beban tinggi.

Uji Jangka Panjang dan Evaluasi

Tahap lanjutan berupa uji jangka panjang juga telah disiapkan. Tujuannya adalah untuk memastikan performa yang tetap stabil dalam operasional harian. Seluruh hasil uji coba hingga saat ini masih dalam tahap evaluasi dan pemantauan berkelanjutan untuk memastikan kesesuaian dalam jangka panjang.

“KAI memastikan proses percepatan implementasi ini berjalan selaras dengan kesiapan di lapangan,” kata Anne. “Melalui kolaborasi dengan pemerintah dan pengujian yang dilakukan secara bertahap, kami berkomitmen menghadirkan layanan transportasi yang aman, andal, dan berkelanjutan,” tegasnya.

KAI menargetkan implementasi penuh B50 pada seluruh lokomotif dan genset kereta, yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dan 50 persen solar. Hingga April 2026, seluruh armada KAI telah menggunakan B40, dan transisi menuju B50 ini merupakan langkah lanjutan dari program yang sudah berjalan.

Uji coba B50 dilakukan pada rute kereta jarak jauh di Pulau Jawa, seperti Jakarta menuju Yogyakarta hingga Surabaya, untuk menguji ketahanan mesin dalam berbagai kondisi operasional. Program B50 ini merupakan bagian integral dari strategi energi nasional yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik, sekaligus mendukung industri kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional.

Advertisement