— DENPASAR, KOMPAS.com – Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, angkat bicara mengenai video yang beredar luas menampilkan Estuary Dam Tanah Kilap, Denpasar, dipenuhi sampah. Ia menegaskan bahwa narasi dalam video tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi terkini di lapangan.

Arbani menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung dan mendokumentasikan situasi terbaru di lokasi. “Video yang beredar kemungkinan diambil pada momen tertentu saat terjadi peningkatan debit air dan kiriman sampah dari hulu. Namun kondisi tersebut bersifat sementara dan telah ditangani oleh petugas di lapangan,” ungkap Arbani di Denpasar, Jumat (24/4/2026).

Kondisi Terkini dan Penanganan

Sebagai bukti klarifikasinya, KLH Provinsi Bali merilis video pembanding yang menyertakan informasi tanggal dan titik koordinat lokasi. Menurut Arbani, kondisi Estuary Dam Tanah Kilap saat ini sudah bersih dan terkendali. Bahkan, area tersebut kini dimanfaatkan oleh warga untuk kegiatan memancing.

Penanganan dan pembersihan di kawasan Estuary Dam Tanah Kilap sendiri dikoordinasikan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, instansi yang memiliki kewenangan pengelolaan wilayah sungai.

Sorotan Persoalan Sampah di Bali

Persoalan sampah di Bali memang terus menjadi sorotan publik. Beberapa waktu lalu, ratusan mahasiswa Universitas Udayana (Unud) menggelar aksi di depan Kantor DPRD Bali, Denpasar, pada Rabu (22/4/2026). Mereka mendesak pemerintah untuk memberikan solusi nyata atas permasalahan sampah yang melanda Pulau Dewata.

Dalam orasinya, Staf Advokasi dan Jejaring Masyarakat BEM Unud, Kesyawa, menyayangkan kondisi Bali yang kini kerap dijuluki sebagai “pulau seribu sampah”, berbeda dengan citra sebelumnya sebagai “pulau seribu pura”. “Sampai kapan permasalahan yang tidak dituntaskan oleh pemerintah ini akan menyakiti rakyat sendiri?” serunya.

Situasi sampah di Bali sempat memburuk setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung tidak lagi menerima sampah organik. Namun, setelah adanya aksi demonstrasi dari para sopir truk sampah, TPA Suwung akhirnya kembali dibuka untuk sampah organik, dengan jadwal dua kali dalam seminggu.

[video.1]