— Ketegangan geopolitik global, khususnya di Asia Barat, membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi perusahaan asing yang mencari lokasi produksi baru yang lebih stabil. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Bakrie menilai situasi ini dapat mendorong relokasi pabrik ke tanah air.

Anindya Bakrie menyatakan bahwa konflik yang terjadi belakangan ini menciptakan peluang signifikan untuk relokasi. “Karena juga harus dilihat dari geopolitik, tentu dengan adanya perang ini terjadi juga banyak sekali peluang di mana yang selalu kita bilang adanya relokasi,” kata Anindya saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan periode meningkatnya tensi dagang antara Amerika Serikat dan China. Kala itu, sejumlah perusahaan global memilih Indonesia sebagai basis produksi untuk menghindari dampak konflik dagang tersebut. Pola serupa kini kembali terlihat, di mana perusahaan mencari alternatif rantai pasok di luar kawasan yang terdampak langsung oleh konflik.

“Nah relokasi ini sekarang sudah tambah lagi karena tadi ingin mencari supply chain lain dari opsi yang Timur Tengah,” ujar Anindya.

Relokasi pabrik tidak hanya berpotensi mendatangkan devisa, tetapi juga diharapkan dapat menopang penguatan nilai tukar rupiah. Selain itu, Anindya menyoroti peran strategis perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia.

Perjanjian Dagang Sebagai Daya Tarik

Sejumlah kesepakatan dagang yang telah terjalin dinilai memberikan kemudahan bagi perusahaan asing untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi dan ekspor. Perjanjian tersebut di antaranya adalah Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), serta kerja sama dagang lain seperti Reciprocal Trade Agreement (RTA) dengan Amerika Serikat dan Free Trade Agreement (FTA) dengan Uni Ekonomi Eurasia.

Menurut Anindya, kombinasi antara stabilitas domestik dan akses pasar yang luas melalui perjanjian-perjanjian tersebut menjadi faktor penarik utama bagi para investor.

“Itu pasti dengan adanya ketegangan antara Amerika-Cina dan Timur Tengah itu mencari tempat. Nah tempat yang istilahnya apa ready to use gitu jadi hit the ground running,” jelasnya.

Eskalasi Konflik Global

Situasi global saat ini dipicu oleh konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Serangan yang terjadi sejak akhir Februari telah memicu eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini diperparah dengan penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur krusial untuk distribusi minyak dan produk petrokimia dari kawasan Teluk.

Dampak langsung dari eskalasi konflik ini terasa pada kenaikan harga energi global dan gangguan pada rantai pasok industri di berbagai negara.