— Wuhu, China – Isu mengenai potensi akuisisi pabrik PT Handal Indonesia Motor (HIM) oleh Chery Group kembali mengemuka di tengah geliat aktivitas produksi dan peluncuran model baru Chery di pasar otomotif Indonesia. Namun, pihak HIM dengan tegas membantah kabar tersebut.

Wakil Presiden Komisaris HIM, Jongkie D. Sugiarto, menyatakan bahwa hingga saat ini, tidak ada satu pun pembicaraan yang mengarah pada rencana pengambilalihan fasilitas produksi mereka oleh Chery Group.

Pernyataan ini disampaikan Jongkie secara langsung saat ditemui di sela-sela acara Chery International Business Summit 2026 yang berlangsung di Wuhu, China, pada Sabtu (25/6/2026).

“Dia (Chery) mengundang saya, nanti ada meeting terkait produksi,” ujar Jongkie, merujuk pada agenda pertemuannya dengan perwakilan Chery. Ketika dikonfirmasi lebih lanjut mengenai spekulasi akuisisi pabrik, Jongkie dengan tegas menjawab, “Enggak, enggak ada pembicaraan itu (akuisisi pabrik).”

Menurut Jongkie, fokus utama dari pertemuan tersebut adalah untuk membahas kesiapan produksi. Hal ini sejalan dengan tren peningkatan volume perakitan kendaraan Chery di Indonesia, yang didorong oleh penambahan varian model serta penetapan harga yang dinilai kompetitif.

“Produksi dia (Chery) sudah tinggi, naik terus. Kita sebagai yang merakit harus siap. Tidak mungkin mendadak, persiapannya banyak,” jelas Jongkie.

Ia menekankan bahwa peran HIM dalam kerjasama ini adalah sebagai perusahaan perakitan (assembler) semata. Seluruh kebijakan terkait produk dan strategi ekspansi pasar sepenuhnya berada di tangan prinsipal, yaitu Chery Group.

“Itu urusan dia, saya tidak ikut campur. Saya merakit saja. Untuk model baru yang akan dirakit lokal, nanti biar mereka yang bicara,” tegasnya.

Saat ini, fasilitas produksi HIM yang berlokasi di Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat, memang menjadi basis perakitan berbagai model Chery di Indonesia melalui skema completely knocked down (CKD). Tidak hanya Chery, merek lain di bawah naungan Chery Group, seperti Jaecoo dan Jetour, juga memanfaatkan fasilitas yang sama, bersama dengan beberapa merek otomotif lainnya.

Sejak tahun 2020, HIM telah menjalin kemitraan manufaktur dengan berbagai merek otomotif, mayoritas berasal dari China. Fasilitas ini tidak hanya melayani kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memiliki rekam jejak ekspor ke berbagai negara sejak tahun 2010.

Menyikapi peningkatan permintaan perakitan lokal, HIM tengah berupaya melakukan ekspansi kapasitas produksi. Salah satu langkah konkretnya adalah pembangunan fasilitas baru di Purwakarta, Jawa Barat.

“Seiring waktu, merek lain juga mau rakit lokal, jadi kami harus tambah fasilitas. Itu bagian dari kesiapan,” ujar Jongkie.

Jongkie kembali menegaskan bahwa tidak ada keharusan bagi Chery untuk mengakuisisi pabrik HIM. Perusahaan asal China tersebut dinilai memiliki kapabilitas untuk membangun fasilitas produksi sendiri apabila diperlukan di masa mendatang.

Dengan demikian, isu akuisisi pabrik HIM oleh Chery Group lebih cenderung dianggap sebagai spekulasi pasar. Fokus utama saat ini, menurut Jongkie, adalah pada penguatan kapasitas produksi HIM untuk dapat mengimbangi pertumbuhan industri otomotif di Indonesia.