— JAKARTA, KOMPAS.com — Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Marunda, Jakarta Utara, kembali menjadi sorotan akibat rentetan masalah yang menimpanya. Fasilitas yang dibangun dengan anggaran Rp 15,5 miliar ini tak hanya menjadi sasaran pencurian, tetapi juga kerap disalahgunakan dan mengalami kerusakan.

Salah satu insiden pencurian yang merugikan terjadi pada Maret 2026. Mesin outdoor AC yang terpasang di bagian bawah JPO Marunda dilaporkan hilang digondol maling. Kejadian ini menyebabkan salah satu unit AC di dalam lift JPO tidak berfungsi.

“Pernah hilang outdoor AC, kan adanya di bawah,” ujar Muhammad Taufat (49), operator lift JPO Marunda, saat ditemui Kompas.com di lokasi, Jumat (24/4/2026).

Beruntung, aksi pencurian tersebut terekam oleh kamera CCTV, sehingga wajah pelaku dapat dikenali. Taufat mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada atasannya, namun tidak mengetahui apakah kasus ini dilanjutkan ke pihak kepolisian.

“Itu saya kurang tahu, masalahnya (JPO) ini masih dipegang vendor sih,” tuturnya.

JPO Marunda Jadi Tempat Tinggal Gelandangan

Selain masalah pencurian, JPO Marunda juga kerap dijadikan tempat berlindung oleh para gelandangan. Pantauan Kompas.com di lokasi menemukan dua orang gelandangan tertidur di atas JPO, tepat di depan pintu lift yang tidak berfungsi, beralaskan tikar tipis.

Taufat mengaku kerap mengusir mereka, namun para gelandangan tersebut selalu kembali saat tidak ada pengawasan.

“Biasanya, saya usir-usirin yang tidur di sini,” ungkapnya.

Kerusakan Akibat Kontainer dan Cuaca

Fasilitas JPO Marunda juga mengalami kerusakan fisik. Kaca pelindung lift di depan SMPN 244 pecah setelah ditabrak oleh sebuah kontainer. Area yang rusak tersebut kini hanya ditutupi spanduk bertuliskan “maaf sedang dalam perbaikan”.

Tak hanya itu, dua unit lift di JPO Marunda juga dilaporkan mengalami gangguan sejak bulan puasa. Kerusakan ini diduga akibat tempias hujan dan angin kencang yang memengaruhi sistem sensor lift.

“Rusaknya sejak bulan puasa kemarin. Karena tetesan tempias hujan. Kalau hujan gede, hujan angin, dia pasti ada yang error karena kan dia rata-rata pakai sensor,” jelas Taufat.

Ia menambahkan bahwa kerusakan tersebut telah dilaporkan dan sempat diperbaiki oleh petugas Bina Marga, namun lift kembali bermasalah dan belum dapat digunakan hingga kini.

Pejalan Kaki Enggan Menggunakan JPO

Kondisi JPO yang memprihatinkan ini berdampak pada minat masyarakat untuk menggunakannya. Reya (32), salah seorang pejalan kaki, mengaku enggan menggunakan JPO karena harus menaiki tangga yang tinggi, sementara lift tidak berfungsi.

“Malas banget naik tangganya tinggi banget, terus kan ada lift tapi enggak pernah berfungsi rusak mulu enggak tahu kenapa,” keluhnya saat ditemui Kompas.com, Kamis.

Ia menambahkan bahwa menaiki sekitar 43 anak tangga dirasa melelahkan dan memakan waktu. Saat terburu-buru, Reya memilih menyeberang langsung dengan bantuan juru parkir.

“Kalau lagi buru-buru enggak sempat naik JPO, sebenarnya sih tahu bahaya tapi udah lah minta bantuan juru parkir di perempatan aja,” sambungnya.

Pedagang di sekitar lokasi, Rotua (59), juga mengamini fenomena tersebut. Ia melihat banyak pejalan kaki yang lebih memilih menyeberang langsung.

“Kebanyakan langsung menyeberang. Makanya kadang anak SD dari belakang mampir di sini minta ‘seberangin dong Bu’ kalau abang-abangnya (juru parkir) lagi sibuk,” ucap Rotua.

Rotua sendiri mengaku harus menaiki puluhan anak tangga dengan ketinggian sekitar 5,5 meter setiap hari untuk beraktivitas. Ia berharap lift segera diperbaiki, terutama untuk membantu lansia.

“Cuma kalau sudah naik tangga dari sana berhenti dulu nih, mandang-mandang sebentar, baru turun. Enggak bisa langsung turun,” ungkapnya.

Persepsi Publik dan Keadilan Sosial

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai bahwa kondisi fasilitas publik yang rusak memengaruhi perilaku masyarakat. Ia mengaitkan hal ini dengan konsep Broken Windows Theory.

“Fasilitas yang rusak seperti lift yang macet, kaca pecah, dan kondisi kotor menciptakan persepsi tidak aman, tidak terurus, dan kumuh,” ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Kamis.

Menurutnya, hal ini menyebabkan minat masyarakat menggunakan JPO menurun karena tidak melihatnya sebagai ruang yang nyaman dan terpercaya. Faktor kepraktisan, seperti dianggap lebih cepat dan hemat tenaga, juga turut memperkuat fenomena masyarakat yang memilih menyeberang langsung.

Rakhmat juga menekankan pentingnya keberadaan lift sebagai bagian dari inklusivitas sosial. Tanpa lift, JPO cenderung eksklusif dan hanya dapat diakses oleh mereka yang fisiknya kuat.

“Bagi kelompok rentan seperti lansia, difabel, dan ibu dengan anak, lift menjadi akses utama untuk menggunakan JPO. Ini menunjukkan bahwa desain infrastruktur sangat berkaitan dengan keadilan sosial,” jelasnya.

Proses Perbaikan Menunggu Pengadaan Material

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, menjelaskan bahwa JPO Marunda masih dalam tahap serah terima kedua, sehingga pemeliharaan masih menjadi tanggung jawab penyedia jasa konstruksi.

Siti memastikan bahwa fasilitas yang rusak akan segera diperbaiki. Saat ini, komponen yang mengalami kerusakan sedang dalam proses pengadaan.

“Pekerjaan perbaikan akan segera dilaksanakan setelah seluruh material pengganti tersedia,” ujar Siti dalam keterangan tertulis, Kamis.

Ia juga menambahkan bahwa bangunan rumah lift berbahan kaca yang kerap rusak akibat tertabrak kontainer akan dievaluasi. Dinas Bina Marga tengah merumuskan langkah pengamanan yang lebih efektif serta menyempurnakan desain JPO di Jakarta.

“Upaya tersebut mencakup peningkatan aspek aksesibilitas, keselamatan, kenyamanan, serta estetika kota, sehingga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih disiplin dalam menggunakan fasilitas penyeberangan yang telah disediakan,” pungkas Siti.