— Jakarta – Kebijakan terkait kendaraan listrik di Indonesia belakangan menjadi sorotan publik, menyusul adanya informasi simpang siur mengenai insentif yang akan diberikan. Ketidakjelasan regulasi ini memunculkan pertanyaan, apakah hal tersebut menjadi alasan Jetour belum juga memasarkan kendaraan listrik murni (BEV) di pasar domestik?

Menanggapi isu tersebut, Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah, menegaskan bahwa strategi perusahaan dalam meluncurkan produk tidak serta-merta bergantung pada insentif pemerintah.

“Menurut kami terkait insentif, kami selalu bilang kalau Jetour akan selalu mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, terutama seperti insentif. Karena memang tujuannya adalah untuk jangka panjang industri otomotif di Indonesia,” ujar Ranggy saat ditemui di Beijing, Tiongkok, pada Kamis (24/4/2026).

Ranggy menekankan bahwa arah bisnis Jetour tetap berjalan sesuai rencana tanpa terpengaruh oleh dinamika kebijakan insentif yang belum konsisten.

“Tapi Jetour untuk saat ini memang strategi kami tidak bergantung terhadap insentif. Jadi simpang siur insentif segala macam tidak mempengaruhi strategi kami,” jelasnya.

Pendekatan Holistik Jetour

Alih-alih bersandar pada stimulus pemerintah, Jetour memilih untuk mengedepankan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mempersiapkan produk-produknya. Fokus utama perusahaan adalah menghadirkan kendaraan yang memiliki daya saing kuat dari berbagai aspek.

“Strategi kami lebih holistik, menghadirkan kendaraan yang punya daya saing menyeluruh. Dari sisi desain mobil, fitur, hingga value untuk konsumen,” ungkap Ranggy.

Meskipun demikian, Ranggy tidak menampik bahwa insentif tetap memegang peranan penting, terutama dalam fase awal adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Dukungan tersebut dinilai mampu menjadi katalisator bagi konsumen untuk beralih ke teknologi elektrifikasi.

“Kebijakan insentif memang sangat penting untuk tahap awal, untuk membantu konsumen masuk ke elektrifikasi dan itu sangat benefit,” tuturnya.