Akses.co.id — Jerman menyatakan kesiapannya untuk mengirim kapal penyapu ranjau ke kawasan Mediterania sebagai langkah awal menghadapi potensi operasi di Selat Hormuz. Langkah ini diambil menyusul desakan Amerika Serikat agar negara-negara Eropa turut berperan dalam menjaga keamanan jalur vital tersebut.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, mengonfirmasi rencana tersebut kepada surat kabar Jerman, Rheinische Post. Ia menjelaskan bahwa selain kapal penyapu ranjau, Jerman juga akan mengerahkan kapal komando dan perbekalan. “Kami mengirimkan kapal penyapu ranjau ke Mediterania,” ujar Pistorius, seperti dikutip dari Al Jazeera pada Sabtu (25/4/2026). “Kapal-kapal tersebut akan dikerahkan bersama kapal komando dan perbekalan, untuk mempersiapkan kemungkinan penempatan di Selat Hormuz.”
Meskipun demikian, Pistorius belum merinci kapan tepatnya pengiriman armada laut Jerman tersebut akan dilakukan. Ia menekankan bahwa setiap penugasan harus memenuhi beberapa syarat krusial. “Syarat-syarat untuk setiap penugasan meliputi gencatan senjata yang berkelanjutan antara AS dan Iran, menurut kantor berita DPA,” jelasnya. Selain itu, kerangka hukum yang kuat berdasarkan hukum internasional, serta mandat dari Bundestag Jerman, juga menjadi prasyarat mutlak.
Tekanan AS untuk Peran Eropa
Keputusan Jerman ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengkritik sekutu NATO yang dinilai enggan bergabung dalam aksi militer AS-Israel terhadap Iran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Jumat (24/4/2026) menegaskan bahwa isu Selat Hormuz juga merupakan tanggung jawab negara-negara Eropa.
Hegseth berargumen bahwa Amerika Serikat tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan energinya. “AS hampir tidak menggunakan Selat Hormuz sebagai sebuah negara. Energi kita tidak mengalir melalui sana, padahal kita memiliki banyak energi,” kata Hegseth di Pentagon, mengutip CNN.
Ia menambahkan bahwa Eropa dan Asia telah lama menikmati perlindungan dari AS tanpa memberikan kontribusi yang sepadan. “Eropa dan Asia telah mendapat manfaat dari perlindungan kita selama beberapa dekade, tetapi waktu untuk memanfaatkan sumber daya tanpa berkontribusi telah berakhir,” tegas Hegseth.
Lebih lanjut, Hegseth mendesak para pemimpin Eropa untuk tidak hanya berkutat dalam diskusi dan konferensi. “Para pemimpin Eropa seharusnya tidak hanya melakukan konferensi membahas konflik ini, melainkan langsung terjun ke lapangan,” ujarnya. “Ini jauh lebih merupakan perjuangan mereka (Eropa) daripada perjuangan kita.”
Peran Tradisional Jerman
Pistorius turut menyoroti kapabilitas angkatan laut Jerman dalam konteks ini. Ia mengingatkan bahwa Jerman secara tradisional memiliki peran penting dalam operasi pembersihan ranjau di dalam NATO. “Jerman secara tradisional memainkan peran utama dalam operasi pembersihan ranjau di dalam NATO,” ungkap Pistorius.
Ikuti Akses.co.id
