— Yogyakarta, kota budaya yang kaya rasa, menawarkan surga kuliner bagi para pelancong. Dari cita rasa manis, gurih, hingga pedas yang menggugah selera, beberapa sajian legendaris Yogyakarta patut masuk dalam daftar wajib coba saat berlibur. Berikut adalah lima kuliner ikonik yang telah melegenda di Bumi Mataram.

Jelajah Kuliner Legendaris Yogyakarta

Berlibur ke Yogyakarta tak akan lengkap tanpa menyelami kekayaan kulinernya. Berbagai hidangan khas dengan cita rasa otentik siap memanjakan lidah. Kementerian Pariwisata mencatat sejumlah kuliner legendaris yang terus bertahan dan digemari.

1. Lumpia Samijaya, Renyahnya Malioboro Sejak 1970-an

Melintasi denyut nadi Jalan Malioboro, aroma gurih Lumpia Samijaya seolah menyambut para pejalan kaki. Warung yang telah berdiri sejak era 1970-an ini menyajikan lumpia goreng dengan isian padat yang tak berlebihan minyaknya.

Menurut laporan Kompas.com pada Senin (17/1/2022), lumpia ini memadukan bengkuang yang renyah, aneka sayuran seperti taoge dan wortel, serta potongan daging ayam. Bagi yang menginginkan sensasi berbeda, tersedia pula varian dengan tambahan telur puyuh.

Keunikan penyajiannya terletak pada pendampingnya: irisan cabai rawit hijau segar dan parutan bengkuang yang dibumbui bawang putih. Kulit lumpia yang digoreng dadakan menjamin kerenyahan setiap gigitan, menjadikannya camilan sempurna sembari menikmati suasana Malioboro. Lumpia Samijaya berlokasi di Jalan Malioboro Nomor 18, Yogyakarta, dan buka setiap hari dari pukul 09.30 WIB hingga 21.00 WIB.

2. Kopi Joss Lik Man, Sensasi “Joss” di Angkringan Legendaris

Malam di Yogyakarta terasa kurang sempurna tanpa menyeruput hangatnya Kopi Joss di Angkringan Lik Man. Keberadaan kopi unik ini telah membekas sejak tahun 1960-an, seperti diberitakan Kompas.com pada Jumat (10/11/2023).

Rahasia di balik sensasi “joss” yang khas bukan sembarang arang. Lik Man menggunakan arang kayu sambi dari kawasan Imogiri yang dibakar hingga membara, kemudian dimasukkan langsung ke dalam gelas kopi. Proses ini tak hanya menghasilkan bunyi khas, tetapi juga aroma yang menggoda.

Selain kopi, angkringan ini juga menawarkan beragam gorengan dan sate, seperti sate usus dan telur puyuh. Suasana lesehan yang akrab menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung. Angkringan Lik Man terletak di Jalan Wongsodirjan dan beroperasi mulai pukul 16.00 WIB hingga dini hari pukul 01.00 WIB.

3. Wedang Ronde Mbah Payem, Hangatnya Tradisi Sejak 1956

Untuk menghangatkan tubuh di malam yang dingin, Wedang Ronde racikan Mbah Payem menjadi pilihan yang tak tertandingi. Melansir Kompas.com pada Rabu (17/2/2021), Mbah Payem telah setia berjualan sejak tahun 1956, membuktikan ketahanan resep tradisionalnya.

Proses pembuatan wedang ronde ini masih mempertahankan metode tradisional, termasuk penumbukan tepung beras secara mandiri. Aroma jahe yang kuat dan herbal lainnya berpadu harmonis, menciptakan minuman yang tak hanya menghangatkan tetapi juga menyehatkan.

Wedang Ronde Mbah Payem dapat ditemukan di Jalan Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Warung ini buka mulai pukul 19.00 WIB hingga tengah malam pukul 00.00 WIB.

4. Oseng Mercon Mbah Narti, Ledakan Pedas Jeroan Sapi

Bagi para pencinta rasa pedas yang ekstrem, Oseng Mercon Mbah Narti adalah destinasi kuliner yang wajib disinggahi. Sejak tahun 1997, kuliner ini menjadi favorit penikmat sensasi pedas membara, menurut laporan Kompas.com pada Jumat (17/9/2021).

Hidangan yang berbahan dasar jeroan sapi ini dimasak dengan cabai rawit dalam jumlah masif, menghasilkan rasa pedas yang autentik dan kuat. Konon, dalam sehari, Mbah Narti bisa menghabiskan hingga 50 kilogram jeroan dan 6 hingga 10 kilogram cabai untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Warung Oseng Mercon Mbah Narti berlokasi di Jalan KH Ahmad Dahlan, Purwodiningratan No.110, Ngampilan. Kedai ini buka sejak dini hari pukul 05.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB.

5. Jajanan Pasar Mbah Satinem, Manisnya Tradisi di Pagi Hari

Memulai hari di Yogyakarta dengan sarapan manis nan tradisional bisa dilakukan di Jajanan Pasar Mbah Satinem. Berbagai macam kue basah seperti lupis, gatot, tiwul, dan cenil tersaji di sini.

Dilansir dari Kompas.com pada Senin (17/5/2021), Mbah Satinem telah meneruskan usahanya sejak tahun 1963. Salah satu hidangan andalannya, lupis, bahkan pernah menjadi langganan Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto.

Keunikan lain dari Mbah Satinem adalah cara ia memotong ketan yang tidak menggunakan pisau, melainkan benang yang dililitkan pada jari. Semua jajanan disajikan dengan cantik di atas daun pisang, dilengkapi parutan kelapa segar dan gula merah cair yang manis. Jajanan Pasar Mbah Satinem berlokasi di Jalan Bumijo Nomor 52-40, Jetis, dan buka dari pukul 05.30 WIB hingga 09.00 WIB, cocok untuk sarapan sebelum memulai aktivitas.