Akses.co.id — TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — Dugaan perubahan jalur aliran Kali Ciputat di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, menjadi sorotan usai ditemukan oleh Panitia Khusus (Pansus) Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DPRD Tangerang Selatan. Perubahan ini diduga menjadi salah satu penyebab maraknya banjir di wilayah Pondok Aren, khususnya di kawasan Maharta dan sekitarnya.
Sungai yang dulunya membelah sejumlah titik strategis, termasuk lokasi pusat perbelanjaan Bintaro Xchange, kini dikabarkan tidak lagi berfungsi normal. Bahkan, salah satu jalur aliran sungai tersebut diduga telah “mati” sejak lebih dari satu dekade lalu.
Aliran Sungai Tak Lagi Normal
Temuan mengejutkan ini terungkap saat anggota Pansus Raperda RTRW DPRD Tangerang Selatan melakukan inspeksi lapangan pada Selasa (21/4/2026). Ketua Pansus, Ahmad Syawqi, memaparkan bahwa aliran sungai yang seharusnya melintasi beberapa titik kini tidak lagi bergerak sebagaimana mestinya.
“Aliran (sungai) harusnya melintas di area yang sekarang jadi mal (Bintaro XChange) dan melintasi area stasiun, tetapi (sekarang) alirannya tidak bergerak,” ujar Syawqi.
Ia menjelaskan bahwa Kali Ciputat sebenarnya memiliki dua jalur aliran. Namun, saat ini salah satu jalur tersebut diduga tidak lagi berfungsi akibat perubahan yang terjadi diperkirakan sejak tahun 2011.
“Dulu itu ada dua aliran, sekarang salah satunya seperti mati. Alirannya dialihkan ke arah Pondok Aren,” ungkapnya.
Berdasarkan penelusuran Kompas.com di lapangan, aliran sungai yang sebelumnya lurus kini diduga telah berbelok ke arah daerah Pondok Aren. Kondisi kali pun tampak tidak mengalir deras, dengan air yang mulai menunjukkan warna menghitam. Meskipun tidak tercium bau menyengat, kondisi ini mengindikasikan adanya penurunan kualitas lingkungan di sekitar aliran sungai.
Dampak Banjir di Pondok Aren
Perubahan aliran sungai ini disebut memiliki dampak langsung terhadap sistem pengairan di wilayah hilir. Kawasan di utara Pondok Aren, seperti Maharta, menjadi salah satu area yang kerap terdampak banjir ketika curah hujan meningkat.
“Itu kan Maharta dan sekitarnya banjir juga. Itu efeknya ke utara Pondok Aren situ, karena itu alirannya Kali Ciputat,” kata Syawqi.
Menurutnya, ketika curah hujan tinggi, debit air yang seharusnya terbagi ke dua jalur kini terkonsentrasi pada satu aliran saja. Hal ini menyebabkan kapasitas tampung sungai menjadi tidak optimal dan berujung pada genangan di permukiman warga.
“Efeknya kan sudah pasti, debit air tinggi kalau curah hujan tinggi,” imbuhnya.
DPRD Minta Normalisasi dan Dalami Dokumen Pengembang
Menindaklanjuti temuan tersebut, DPRD Tangerang Selatan mendorong dilakukannya normalisasi sungai untuk mengembalikan fungsi aliran air sebagaimana mestinya. Upaya ini juga diharapkan dapat mengintegrasikan sistem drainase kota dengan aliran sungai yang ada.
“Kami dorong normalisasi sungai di situ agar fungsi ruangnya tidak berubah,” ujar Syawqi.
Selain itu, DPRD juga telah memanggil pihak pengembang, PT Jaya Real Property Tbk, untuk mendalami dugaan perubahan aliran sungai tersebut. Dalam rapat dengar pendapat (RDP), pihak pengembang mengklaim telah mengantongi kajian serta persetujuan dari pemerintah pusat.
Namun, DPRD masih meminta sejumlah dokumen pendukung, termasuk yang berkaitan dengan sertifikasi aset negara (BMN) sungai dan kewajiban penyerahan aset pengganti.
“Kami minta beberapa dokumen, termasuk terkait sertifikasi aset negara (BMN) sungai. Mereka menyampaikan akan melengkapi, karena tadi belum semua bisa ditunjukkan,” tutur Syawqi.
Hingga kini, pembahasan mengenai persoalan ini belum menghasilkan keputusan final. DPRD menyatakan akan terus menelusuri lebih lanjut untuk memastikan fungsi sungai tetap terjaga dan sesuai dengan ketentuan tata ruang, terutama dalam upaya pengendalian banjir di Tangerang Selatan.
Ikuti Akses.co.id
