Belum ada kepastian kapan konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan berakhir. Gedung Putih menegaskan bahwa keputusan mengenai durasi perang sepenuhnya berada di tangan Presiden AS Donald Trump.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan, kelanjutan maupun penghentian perang akan ditentukan langsung oleh Trump. “Hal itu bergantung pada presiden, yang akan mengambil keputusan ketika ia merasa itu demi kepentingan terbaik Amerika Serikat dan rakyat Amerika,” ujar Leavitt dalam konferensi pers di Washington, Rabu (22/4/2026), seperti diberitakan The Guardian. Konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026 itu kini telah berlangsung hampir dua bulan.
Luruskan Isu Tenggat Gencatan Senjata
Dalam kesempatan yang sama, Leavitt juga meluruskan kabar terkait tenggat waktu perpanjangan gencatan senjata. Ia membantah laporan yang menyebut adanya batas waktu tiga hingga lima hari untuk perpanjangan tersebut.
“Kendali sepenuhnya ada di tangan Presiden Trump saat ini,” tegasnya. Sebelumnya, Trump telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang pasti. Gencatan senjata disebut akan terus berlaku hingga Iran mengajukan proposal dan pembicaraan mencapai titik penyelesaian.
“Serta akan memperpanjang gencatan senjata hingga proposal mereka diajukan dan pembicaraan diselesaikan, bagaimanapun caranya,” kata Trump dalam pernyataan resmi, Rabu (22/4/2026). Keputusan ini diambil setelah adanya permintaan dari pihak Pakistan, termasuk Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator konflik.
“Kami diminta untuk menunda serangan terhadap Iran hingga para pemimpin mereka dapat mengajukan proposal terpadu,” ujar Trump. Ia juga menegaskan bahwa meskipun gencatan senjata diperpanjang, kesiapan militer tetap dijaga. “Saya telah memerintahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan tetap siap dalam segala kondisi,” lanjutnya.
Trump Puas dengan Blokade
Gedung Putih juga mengungkapkan bahwa Trump merasa puas dengan efektivitas blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Menurut Leavitt, tekanan ekonomi yang diberikan AS membuat posisi Iran semakin melemah. Blokade yang diberlakukan sejak 13 April 2026 disebut berdampak signifikan terhadap perekonomian Iran.
“Kami benar-benar mencekik perekonomian mereka melalui blokade ini. Mereka kehilangan sekitar 500 juta dollar AS per hari,” kata Leavitt. Ia menambahkan, kondisi tersebut terlihat dari penumpukan minyak di Pulau Kharg yang tidak bisa didistribusikan. “Mereka bahkan tidak bisa membayar rakyat mereka sendiri akibat tekanan ekonomi ini,” ujarnya.
Update Blokade AS
Sementara itu, militer AS terus memperketat pengawasan di jalur laut Iran selama blokade berlangsung. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah menginstruksikan 29 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun resmi CENTCOM di platform X pada Kamis (23/4/2026).
CENTCOM juga membantah laporan media yang menyebut beberapa kapal berhasil menembus blokade. Menurut mereka, kapal seperti M/V Hero II dan M/V Hedy tidak melintasi blokade, melainkan telah dicegat dan kini berada di pelabuhan Iran. Sementara itu, kapal Dorena disebut berada dalam pengawalan kapal perang AS di Samudra Hindia setelah mencoba melanggar blokade.
“Militer Amerika Serikat memiliki jangkauan global. Pasukan kami saat ini menegakkan blokade di seluruh kawasan Timur Tengah dan sekitarnya,” tegas CENTCOM.






