PALANGKA RAYA – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Kalimantan Tengah memastikan bahwa jemaah haji yang dijadwalkan berangkat tahun ini tidak perlu mengkhawatirkan situasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Pihaknya menegaskan bahwa Arab Saudi telah memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi seluruh jemaah.
Kepala Kanwil Kemenag Kalteng, Hasan Basri, mengakui adanya ketegangan yang masih berlangsung antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Namun, ia menyatakan bahwa hal tersebut tidak akan memengaruhi perjalanan ibadah haji.
“Pak Wamenhaj sudah berkali-kali bertemu langsung dengan pihak Kerajaan Arab Saudi, sudah dinyatakan bahwa Arab Saudi menjamin keamanan dan keselamatan jemaah kita,” ujar Hasan dalam konferensi pers di Kanwil Kemenag Kalteng, Palangka Raya, Rabu (22/4/2026).
Menurut Hasan, alasan utama mengapa jemaah tidak perlu khawatir adalah karena rute penerbangan yang akan dilalui tidak melewati wilayah yang menjadi zona konflik.
“Karena jalur penerbangan (wilayah perang) itu tidak melewati wilayah yang dilalui jemaah kita, makanya Indonesia menetapkan tetap berangkat, dan Arab Saudi menjamin itu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hasan menambahkan bahwa Arab Saudi sendiri memutuskan untuk tidak terlibat dalam peperangan tersebut. Sikap non-blok ini, menurutnya, menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas di wilayah tersebut.
“Arab Saudi sudah menjamin (keamanan) itu, karena memang mereka tidak ikut campur, biasanya kan Iran sama Israel maupun Amerika, asal tidak ada negara lain yang ikut campur, mereka tidak akan membabi buta,” tuturnya.
Ia berpendapat bahwa konflik yang terjadi tidak akan meluas hingga ke Arab Saudi, mengingat negara tersebut tidak mengambil bagian aktif dalam perseteruan geopolitik tersebut.
“Kalau Arab Saudi macam-macam mungkin (jemaah haji di Makkah rawan), dan negara Iran pun tidak mungkin membombardir saudara sesama muslim yang beribadah haji,” pungkas Hasan.
Kekhawatiran Terhadap Jemaah Umrah
Sebelumnya, isu keamanan terkait konflik Timur Tengah sempat mencuat ketika 13 jemaah umrah asal Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mengalami penundaan kepulangan ke Tanah Air. Mereka tertahan di Arab Saudi akibat memanasnya situasi di wilayah tersebut.
Penundaan kepulangan ini berdampak pada jadwal kedatangan yang semula dijadwalkan pada 8 Maret 2026. Hasan Basri saat itu terus memantau perkembangan kondisi para jemaah.
Informasi dari pimpinan cabang Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) PT Makarim Pangkalan Bun menyebutkan bahwa para jemaah dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 13 Maret 2026. Mereka akan terbang dari Jeddah menuju Jakarta menggunakan maskapai Emirates setelah sebelumnya menggunakan maskapai Qatar Airways dari Doha.
“Insyaallah tanggal 13 sudah di Pangkalan Bun, pindah maskapai ke Emirat dari Jeddah menuju Jakarta, jemaah dalam kondisi sehat dan aman di Hotel di Mekkah, insyaallah dari Jeddah kepulangan tanggal 12 Maret,” ujar Hasan pada waktu itu.
Ketua Tim Kerja Bina Umrah dan Haji Khusus Kanwil Kemenag Kalteng, Taufik Rahman, sebelumnya menjelaskan bahwa 13 jemaah umrah PT Makarim Elakhlak Tourindo Kantor Cabang Pangkalan Bun tertahan di Arab Saudi. Mereka seharusnya dijadwalkan pulang ke Indonesia pada 8 Maret 2026, dengan transit di Bandara Internasional Hamad (DOH) di Doha menggunakan maskapai Qatar Airways.
Pihak travel dilaporkan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk maskapai dan otoritas setempat, untuk memastikan keamanan jemaah sembari menunggu kepastian jadwal penerbangan selanjutnya.






