— Gangguan tidur pada anak akibat ketidaknyamanan fisik, seperti ruam popok, dapat memicu kerewelan, penolakan makan (GTM), bahkan berpotensi menghambat tumbuh kembang mereka. Pemenuhan jam tidur yang optimal menjadi pilar penting dalam perkembangan anak, namun seringkali terhalang oleh masalah sederhana seperti popok yang kasar, daya serap buruk, atau kondisi basah.

Masalah ini disadari betul oleh para orang tua. Aktris Nikita Willy, yang juga merupakan Brand Ambassador MAKUKU, menekankan pentingnya kenyamanan kulit anak melalui produk yang bersentuhan langsung.

“Jadi ketika anak tidurnya sudah maksimal, tumbuh kembangnya pun juga maksimal,” kata Nikita dalam konferensi pers peluncuran popok MAKUKU Slim Luxury Silky di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa tidur yang terputus akibat popok yang terasa mengganjal dapat memicu kerewelan yang sulit diatasi. Suasana hati anak yang memburuk akan mengurangi antusiasme dan fokus mereka pada rutinitas harian.

“Bayangin kalau popok yang dia pakai itu penyerapannya tidak baik. Jadi di tengah-tengah tidur, dia harus terbangun karena dia merasa popoknya tuh ganjel,” ujar Nikita.

Efek Berantai Gangguan Tidur

Kelelahan fisik akibat sering terbangun karena rasa gatal atau popok basah dapat memicu respons negatif berupa penolakan asupan nutrisi, yang dikenal sebagai Gerakan Tutup Mulut (GTM).

“Anak disuruh belajar jalan misalnya, males karena kan ngantuk banget. Disuruh belajar makan gitu, males, ‘Aku GTM aja deh’ karena kan ngantuk gitu,” tutur Nikita.

Gejala awal ketidaknyamanan ini seringkali tidak disadari hingga anak menangis atau menolak makan sama sekali. Kondisi popok yang penuh kotoran dan dibiarkan terlalu lama memicu rasa panas dan ruam yang mengacaukan stabilitas emosi anak.

Dokter spesialis kulit, dr. July Iriani Rahardja, SpDVE, MM, FINSDV, membenarkan bahwa mogok makan adalah sinyal awal anak merasa terganggu.

Dampak Jangka Panjang pada Tumbuh Kembang

Jika gangguan tidur akibat iritasi atau daya serap popok yang buruk terus diabaikan, dampaknya bisa sangat merugikan bagi tumbuh kembang anak.

“Ada sampai yang anak jadi gangguan tumbuh kembang karena enggak bisa tidur,” ujar dr. July.

Orang tua perlu proaktif menelaah penyebab anak sering terbangun dan memastikan area lipatan kulit selalu kering. Durasi dan kedalaman tidur anak sangat dipengaruhi oleh perlindungan kulit mereka dari potensi iritasi semalaman.

“Dia enggak bisa tidur (karena kesehatan kulit terganggu), dia enggak nyaman, itu bisa menjadi gangguan tumbuh kembang,” kata dr. July.

Sebagai langkah antisipatif, penting untuk memastikan perlengkapan yang bersentuhan dengan tubuh anak menggunakan material yang mengutamakan kenyamanan.