Akses.co.id — LIMAPULUH KOTA, KOMPAS.com — Kondisi jalan tanah yang rusak parah menuju Jorong Nenan, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan seorang guru kesulitan menahan motor di tanjakan curam menjadi viral di media sosial. Bersamaan dengan itu, sebuah lagu protes sederhana dari petani gambir setempat turut menyebar, menggemakan keluhan warga yang telah bertahun-tahun mendambakan perbaikan akses vital tersebut.
Video yang beredar memperlihatkan Silvatri Reza Vianda (37), seorang guru, berjuang keras menahan laju sepeda motornya di jalur tanjakan yang licin dan berbatu. Momen tersebut menggambarkan betapa sulitnya mobilitas warga di jorong yang terletak di dataran tinggi itu.
Jalan Rusak Menahun, Akses Vital Terancam
Wali Jorong Nenan, Dedi Rahmad, membenarkan bahwa kondisi jalan yang memprihatinkan tersebut bukanlah hal baru bagi ratusan warganya. “Di Nenan ini, jalan yang masih berupa tanah dengan kondisi rusak berat ada sekitar 5 kilometer,” ungkap Dedi, Kamis (23/4/2026).
Ia merinci, dari total panjang jalan menuju Jorong Nenan yang mencapai sekitar 9 kilometer, hanya 4 kilometer yang sudah beraspal. Sisanya, sepanjang 5 kilometer, masih berupa jalan tanah dengan tingkat kemiringan yang cukup ekstrem, terutama saat musim hujan. “Kalau hujan, jalan jadi licin sekali. Kemiringannya di beberapa titik bisa sampai 60 derajat,” jelasnya.
Ratusan Warga Bergantung pada Akses Sulit
Jorong Nenan dihuni oleh sekitar 800 jiwa yang tersebar dalam 217 kepala keluarga. Di tengah keterbatasan akses, terdapat satu sekolah dasar dan satu taman kanak-kanak yang melayani kebutuhan pendidikan anak-anak setempat. Namun, perjalanan menuju kedua fasilitas pendidikan ini dipenuhi rintangan, dengan empat titik rawan tergelincir yang kerap membuat pengendara motor terjatuh.
Mayoritas mata pencaharian warga Jorong Nenan bergantung pada hasil perkebunan gambir. Buruknya kondisi jalan tidak hanya menyulitkan transportasi, tetapi juga berdampak signifikan pada perekonomian mereka. Biaya angkut yang tinggi akibat medan berat membuat harga jual gambir di Nenan jauh lebih rendah dibandingkan di pusat nagari. “Di Nenan, gambir dibeli sekitar Rp 30.000 per kilogram. Di pusat Nagari Maek bisa Rp 45.000,” ujar Dedi.
Untuk dapat melewati medan yang berat, warga terpaksa memodifikasi kendaraan mereka agar mampu mengangkut hasil panen.
Lagu Protes dari Petani Gambir
Di tengah kesulitan yang dihadapi, Ajisman (59), seorang petani gambir, menyuarakan kepedihan dan kekecewaannya melalui sebuah lagu sederhana berjudul “Bukik Kosan”. Lagu tersebut secara gamblang menggambarkan ironi pembangunan di negeri yang telah merdeka sekian lama, namun akses jalan di kampungnya tak kunjung membaik.
“Sudah sekian lama kita merdeka, tapi jalan ke kampung kami belum pernah bagus,” ucap Ajisman, yang lagunya kemudian viral dan menjadi simbol protes warga.
Lebih lanjut, kondisi jalan yang buruk juga turut menghambat layanan kesehatan. Jorong Nenan hanya memiliki puskesmas pembantu dengan tenaga bidan. Untuk mendapatkan perawatan lanjutan, warga harus menempuh perjalanan sulit keluar kampung, terutama saat cuaca buruk. Kendala serupa juga dialami dalam hal komunikasi, di mana jaringan telekomunikasi sangat terbatas, memaksa warga mengandalkan internet satelit.
Respons Pemerintah Daerah dan DPRD
Menanggapi keluhan warga, Anggota DPRD Limapuluh Kota, Bisron Hadi, menyatakan bahwa usulan perbaikan jalan menuju Nenan telah lama diajukan, namun terkendala anggaran. “Untuk memperbaiki sekitar 4 kilometer jalan rusak parah, dibutuhkan sekitar Rp 10 miliar,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Limapuluh Kota, Safni, berjanji akan memprioritaskan perbaikan jalan di titik-titik yang paling rawan. “Insya Allah tahun ini mulai dikerjakan. Kita fokus dulu pada titik-titik yang paling berisiko,” katanya.
Pemerintah daerah merencanakan pengerjaan perbaikan jalan akan dimulai setelah adanya kepastian pencairan dana dari pemerintah pusat pada Mei 2026. Bagi masyarakat Jorong Nenan, perbaikan jalan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan sebuah harapan besar untuk kehidupan yang lebih layak.
Ikuti Akses.co.id
