Akses.co.id — JAKARTA, Kompas.com — Keheningan menyelimuti sejumlah ruas jalan dan gedung di Jakarta selama satu jam pada Sabtu (25/4/2026) malam. Pemadaman lampu serentak yang berlangsung dari pukul 20.30 hingga 21.30 WIB ini merupakan bagian dari peringatan Hari Bumi, sekaligus sebagai dorongan untuk menghemat energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Kebijakan pemadaman lampu ini diberlakukan di lima wilayah DKI Jakarta, mencakup ruas jalan, gedung pemerintahan, serta bangunan komersial seperti pusat perbelanjaan, hotel, restoran, dan apartemen.
Dorong Penghematan Energi dan Kesadaran Lingkungan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Sadikin, menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk mendorong penghematan energi dan menekan emisi gas rumah kaca.
“Kegiatan pemadaman lampu bertujuan mendorong penghematan energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan,” ujar Dudi dalam keterangan tertulis.
Namun, fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik tetap beroperasi normal dan dikecualikan dari pemadaman ini demi kelancaran pelayanan kepada masyarakat.
Warga Terkejut, Mengira Gangguan Listrik
Bagi sebagian warga, suasana gelap mendadak ini terasa tidak biasa. Anang (30), seorang pedagang yang berjualan di dekat pintu masuk MRT Istora Mandiri, mengaku baru mengetahui adanya kegiatan peringatan Hari Bumi setelah melihat deretan gedung yang biasanya terang benderang tiba-tiba mematikan lampu secara serentak.
“Kayaknya baru ini deh makanya enggak biasa lihat tiba-tiba pada mati gedungnya,” kata Anang.
Ia mengaku sempat mengira terjadi gangguan listrik karena tidak mengetahui adanya agenda pemadaman serentak tersebut.
“Dari tadi ini, saya baru tahu kalau ada Hari Bumi itu. Kirain ada kejadian, soalnya enggak pernah gelap di sini,” ujarnya.
Jalan Sudirman Terlihat Tak Biasa
Ghiffari (24), yang berada di kawasan SCBD, juga mengaku terkejut melihat lampu gedung dan lampu jalan di Jalan Jenderal Sudirman padam. Baginya, suasana tersebut terasa aneh karena kawasan SCBD identik dengan gemerlap cahaya, terutama pada malam hari.
“Sebenarnya tahu sih ada Hari Bumi tapi karena enggak biasa aja. Sebetulnya aneh karena termasuk jalan protokol. SCBD kan biasanya terang,” tuturnya.
Ghiffari menilai bahwa upaya penghematan energi semacam ini perlu dirancang dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan agar dampaknya dapat dirasakan lebih signifikan bagi lingkungan.
“Menurutku harus ada cara yang lebih pasti dan berkelanjutan kalau ingin melakukan penghematan energi,” kata dia.
Blok M Tetap Ramai
Berbeda dengan kawasan SCBD, suasana di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tetap ramai meskipun aksi pemadaman lampu dalam rangka Hari Bumi berlangsung. Aktivitas di pusat kuliner dan hiburan ini tampak tidak banyak terpengaruh oleh kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang mengajak masyarakat memadamkan lampu selama satu jam.
Kios-kios makanan tetap dipadati pengunjung, terutama kalangan muda yang menikmati malam akhir pekan. Sejumlah gerai photo box juga terlihat ramai didatangi pengunjung yang mengabadikan momen bersama teman-teman mereka.
Di sisi lain, tak jauh dari keramaian tersebut, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan tampak gelap selama pemadaman berlangsung.
Sejumlah anak muda di Blok M mengaku tidak sepenuhnya menyadari adanya kegiatan pemadaman lampu tersebut. Namun, mayoritas dari mereka menilai aksi mematikan lampu sebagai langkah positif untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ikuti Akses.co.id
