— Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan kesiapan negaranya untuk melanjutkan pertempuran melawan Iran, sembari menanti persetujuan dari Amerika Serikat. Tel Aviv menargetkan pemimpin tertinggi Iran dan situs energinya sebagai sasaran utama.

Menurut laporan Al Jazeera pada Jumat (24/4/2026), Katz menegaskan bahwa pasukan pertahanan Israel telah siap tempur, dan target-target potensial telah diidentifikasi.

“Israel siap untuk memperbarui perang melawan Iran. Tentara Israel siap dalam pertahanan dan serangan, dan target telah ditandai,” ujar Katz dalam sebuah cuplikan video yang dirilis Al Jazeera.

Ia menambahkan, “Kami menunggu lampu hijau dari Amerika Serikat, pertama dan terutama untuk menyelesaikan penghapusan dinasti Khamenei yang bersekongkol melawan Israel.” Katz juga mengungkapkan keinginannya untuk mengembalikan Iran ke era yang disebutnya sebagai zaman “kegelapan dan batu” dengan cara menghancurkan fasilitas energi dan listrik pusat, serta melumpuhkan infrastruktur ekonomi nasional.

“Serangan ketika diperbarui, kali ini akan berbeda dan akan memberikan pukulan dahsyat di tempat-tempat yang paling sensitif,” tegas Katz.

Perang Israel-AS dan Iran

Konflik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran meletus pada 28 Februari 2026, setelah kedua negara melancarkan serangan gabungan ke Teheran. Sebagai respons, Iran menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar pelayaran internasional dan melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Washington dan Teheran kemudian sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu dan memulai perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026. Selama periode tersebut, yang berakhir pada 22 April, kedua belah pihak menghentikan semua bentuk serangan terhadap wilayah atau fasilitas milik musuh.

Menjelang akhir masa gencatan senjata, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan perpanjangan kesepakatan tersebut pada Selasa (21/4/2026) malam waktu setempat. Dikutip dari Kompas.com pada Rabu (22/4/2026), Trump menyatakan perpanjangan gencatan senjata akan berlaku hingga Iran menyampaikan usulan konkret.

Meskipun demikian, Trump menekankan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengurangi tekanan militer. Ia memastikan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan. Trump beralasan, perpanjangan gencatan senjata ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi kelanjutan perundingan damai dengan Iran.