Akses.co.id — WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Perdana Menteri Israel dan perwakilan Lebanon dilaporkan telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu, sebuah langkah yang dimediasi langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata tercapai, Trump sendiri menyatakan tidak terburu-buru dalam upaya menciptakan perdamaian permanen di kawasan tersebut. Ia menekankan keinginannya untuk mencapai kesepakatan terbaik demi mengakhiri konflik regional yang melibatkan Iran.
“Jangan desak saya. Saya ingin membuat kesepakatan terbaik. Saya ingin kesepakatan itu bersifat abadi,” ujar Trump dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat (24/4/2026), seperti dikutip dari Reuters.
Konflik yang telah berlangsung selama delapan minggu antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon menjadi salah satu hambatan signifikan dalam upaya penyelesaian krisis Timur Tengah. Selain itu, ambisi nuklir Iran dan isu pengendalian Selat Hormuz juga masih menjadi poin krusial yang belum terselesaikan.
Situasi Selat Hormuz dan Dampaknya
Presiden Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam ketegangan kekuatan laut di Selat Hormuz, bahkan meremehkan ancaman dari kapal-kapal kecil Iran yang dilaporkan memblokade jalur pelayaran vital tersebut.
Namun, di balik klaim optimisme tersebut, navigasi di Selat Hormuz dilaporkan masih terblokade. Insiden penangkapan dua kapal kargo besar oleh Iran telah memberikan peringatan keras bagi pasar minyak dunia dan perekonomian global.
Pemerintah Filipina telah mengonfirmasi bahwa 15 warga negaranya berada di dua kapal yang disita. Pihak Filipina meyakini bahwa para sandera dalam kondisi aman dan berharap kapal-kapal tersebut segera dibebaskan.
Ketegangan di Lapangan Tetap Tinggi
Di tengah upaya gencatan senjata, situasi di lapangan dilaporkan masih mencekam. Pasukan Israel dilaporkan terus melancarkan serangan terhadap target-target Hizbullah di Lebanon Selatan. Tindakan ini menyusul serangan roket dan drone yang dilancarkan oleh kelompok Hizbullah terhadap tentara Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberikan peringatan keras bahwa negaranya siap untuk memulai kembali serangan ke Iran apabila mendapatkan lampu hijau dari Amerika Serikat.
Ikuti Akses.co.id
