Akses.co.id — Lebih dari 250 warga India yang mengklaim sebagai keturunan salah satu suku dalam Alkitab tiba di Bandara Ben Gurion pada Kamis (23/4/2026). Mereka datang sebagai bagian dari operasi pemerintah Israel untuk dipindahkan ke negara tersebut dan dijanjikan kewarganegaraan setelah melalui proses konversi agama.
Rombongan pendatang tersebut, yang merupakan kelompok pertama warga Bnei Menashe tiba di Israel sejak pemerintah mengambil keputusan pada November lalu, tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang. Mereka disambut hangat oleh para pendukung dari komunitas yang sama, yang melambaikan bendera kecil Israel diiringi alunan lagu “Oseh Shalom”.
Keturunan Suku Manasseh, Arus Migrasi Berlanjut
Para pria dalam rombongan tampak mengenakan kippah rajutan, sementara perempuan yang telah menikah memakai penutup kepala sesuai tradisi Yudaisme Ortodoks. Kebijakan pemerintah Israel mencakup pembiayaan pemindahan ribuan anggota komunitas dari Mizoram dan Manipur di timur laut India.
Komunitas Bnei Menashe, yang mengklaim sebagai keturunan suku Manasseh dalam Alkitab, telah bermigrasi secara bertahap ke Israel sejak dekade 1990-an. Terlepas dari perdebatan mengenai validitas asal-usul mereka, arus perpindahan diperkirakan akan meningkat setelah pemerintah menyetujui rencana relokasi sekitar 6.000 anggota yang tersisa hingga tahun 2030 melalui program yang dikenal sebagai Operasi Sayap Fajar.
Kedatangan rombongan ini menandai tahap awal dari gelombang berikutnya, dengan rencana pemerintah untuk membawa sekitar 1.200 orang sepanjang tahun 2026. Kementerian Aliyah dan Integrasi Israel bahkan telah menjadwalkan dua penerbangan tambahan dalam dua minggu mendatang.
Organisasi Shavei Israel, yang berfokus pada penelusuran keturunan suku-suku yang hilang, mencatat bahwa sekitar 4.000 anggota Bnei Menashe telah bermigrasi ke Israel sejak 1990-an, sementara sekitar 7.000 lainnya masih berada di India.
Meskipun terlihat lelah, banyak imigran baru mengungkapkan kebahagiaan dapat bertemu kembali dengan teman dan anggota keluarga lama setelah bertahun-tahun terpisah. Beberapa dari mereka tidak kuasa menahan air mata haru saat akhirnya memeluk orang-orang terkasih.
“Kami bertetangga dan termasuk satu-satunya orang Yahudi di desa kami.”
Dagan Zolat, yang telah menetap di Israel selama dua dekade, datang ke bandara untuk menjemput seorang pria yang dianggapnya seperti saudara. “Kami bertetangga dan termasuk satu-satunya orang Yahudi di desa kami,” ujarnya kepada AFP, menceritakan momen pertemuan kembali setelah sembilan tahun.
Proses Konversi Agama Menuju Kewarganegaraan
Sebanyak 250 anggota Bnei Menashe yang tiba pada Kamis (23/4/2026) dijadwalkan untuk menetap di wilayah utara Israel, menurut Kementerian Integrasi. Untuk memperoleh kewarganegaraan Israel, mereka diwajibkan menjalani proses konversi agama.
Menteri Imigrasi Ofir Sofer, yang turut menyambut kedatangan mereka, menyebut momen tersebut sebagai tonggak penting. “Ini adalah awal dari sebuah operasi yang akan memungkinkan seluruh komunitas untuk berimigrasi, 1.200 orang per tahun,” katanya.
Secara turun-temurun, komunitas Bnei Menashe memiliki kisah perjalanan panjang yang melintasi Persia, Afghanistan, Tibet, hingga Tiongkok, sembari tetap mempertahankan sebagian praktik Yahudi seperti sunat. Di India sendiri, mereka sempat mengalami proses kristenisasi oleh misionaris pada abad ke-19.
Di sisi lain, wilayah Manipur di India dilaporkan mengalami konflik berkepanjangan selama hampir tiga tahun antara kelompok mayoritas Meitei yang beragama Hindu dan komunitas Kuki yang mayoritas beragama Kristen, yang telah menewaskan lebih dari 250 orang. Sejak April 2025, lebih dari 18.000 orang Yahudi telah bermigrasi ke Israel, angka ini turun sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ikuti Akses.co.id
