Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung. Sikap tegas ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, yang turut dipicu oleh insiden penyitaan dua kapal di jalur pelayaran strategis tersebut. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, dengan harapan membuka jalan bagi perundingan damai yang dimediasi Pakistan.
Menyambut baik upaya mediasi tersebut pada Rabu (22/4/2026), Iran belum memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai keputusan Trump. Namun, Ketua Parlemen Iran sekaligus pemimpin delegasi Teheran dalam perundingan awal, Mohammad Bagher Ghalibaf, menekankan bahwa gencatan senjata tidak akan berarti jika masih diiringi dengan tekanan militer.
“Gencatan senjata hanya bermakna jika tidak dilanggar melalui blokade laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata,” ujar Ghalibaf, sebagaimana dilansir BBC.
Ketidakpastian yang menyelimuti kelanjutan konflik ini terus menahan harga minyak dunia pada level tinggi sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Kenaikan harga minyak terjadi meskipun pasar saham AS menunjukkan tren penguatan.
Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya memberikan waktu bagi kepemimpinan Iran yang dinilainya “terpecah” untuk merumuskan proposal perdamaian. Sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai upaya untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut. Trump juga mengindikasikan kemungkinan perundingan kembali digelar di Pakistan dalam dua hingga tiga hari ke depan. Namun, Iran belum mengonfirmasi partisipasinya, sementara Wakil Presiden AS JD Vance menunda kunjungannya ke Islamabad.
Iran Sita Kapal di Selat Hormuz
Di tengah memanasnya situasi, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menyita dua kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dalam pernyataannya yang dilaporkan kantor berita Tasnim, mereka menyatakan kedua kapal tersebut melanggar aturan maritim. Kapal yang disita adalah kapal kontainer MSC Francesca yang berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia.
Kementerian Luar Negeri Panama telah mengonfirmasi penyitaan MSC Francesca dan menyebutnya sebagai “serangan serius terhadap keamanan maritim” serta eskalasi yang tidak perlu. Pemantau keamanan maritim juga melaporkan adanya insiden terhadap tiga kapal dagang di wilayah tersebut. Salah satu kapal dilaporkan ditembaki oleh kapal Garda Revolusi sekitar 15 mil laut dari Oman, menyebabkan kerusakan pada anjungan namun tidak ada korban jiwa.
AS Tetap Blokade, Iran Perketat Kontrol
Sementara itu, Angkatan Laut AS tetap melanjutkan blokade terhadap kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menekan ekonomi Teheran tanpa harus melanjutkan perang terbuka. Dilansir Al Jazeera, Kamis (23/4/2026), Komando Pusat AS (Centcom) mengklaim telah memerintahkan 31 kapal, sebagian besar tanker minyak, untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan sebagai bagian dari blokade terhadap Iran.
Dalam pembaruan yang dibagikan di media sosial X, Centcom menyatakan bahwa sebagian besar kapal telah mematuhi arahan AS.
“Operasi blokade pelabuhan Iran melibatkan lebih dari 10.000 tentara AS, 17 kapal perang, dan lebih dari 100 pesawat,” kata CENTCOM.
Sebagai respons atas blokade AS, Iran memberlakukan kewajiban bagi kapal untuk meminta izin sebelum melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini menandai perubahan sikap, setelah sebelumnya Iran sempat menjanjikan jalur aman selama periode gencatan senjata. Akhirnya, kedua belah pihak saling menuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Di luar Selat Hormuz, ketegangan juga meningkat di Lebanon. Meskipun telah ada gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah, serangan dilaporkan masih terus terjadi. Media Lebanon melaporkan lima orang tewas akibat serangan Israel pada Rabu, termasuk dua jurnalis, salah satunya Amal Khalil yang tewas dalam serangan di dekat perbatasan. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengumumkan bahwa seorang tentara Prancis yang terluka dalam serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon meninggal dunia.
Israel dan Lebanon dijadwalkan melanjutkan perundingan di Washington. Dalam pertemuan tersebut, Lebanon akan mengusulkan perpanjangan gencatan senjata selama satu bulan serta penghentian serangan Israel.






