— Iran mendemonstrasikan penguasaan penuh atas Selat Hormuz pada Kamis (23/4/2026), menampilkan rekaman dramatis pasukan komando yang menyergap kapal kargo raksasa. Aksi ini dilakukan di tengah kegagalan perundingan damai yang diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran internasional vital tersebut.

Televisi pemerintah Iran menayangkan adegan pasukan berseragam gelap dan bertopeng, menggunakan kapal cepat berwarna abu-abu, merapat ke kapal raksasa bernama MSC Francesca. Dalam cuplikan yang diiringi musik ala film laga, para prajurit terlihat menaiki tali tambang menuju pintu lambung kapal sambil menenteng senjata.

Selain MSC Francesca, rekaman tersebut juga memperlihatkan kapal lain, Epaminondas, yang menurut laporan Reuters, telah disita oleh Teheran pada Rabu (22/4/2026). Iran menuduh kedua kapal tersebut mencoba melintasi selat tanpa izin.

Ketua Yudisial Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, menegaskan bahwa kapal-kapal dagang yang dicegat di selat itu akan menghadapi proses hukum. Ia menambahkan bahwa kapal cepat dan drone laut Iran disiagakan di gua-gua laut dekat mulut selat untuk menghalangi kehadiran Angkatan Laut Amerika Serikat.

Situasi ini semakin kompleks dengan pernyataan Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, yang mengungkapkan bahwa Iran mulai memungut biaya tol dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. “Pendapatan pertama dari tol yang dikumpulkan Iran dari kapal-kapal yang menggunakan selat telah ditransfer ke rekening bank sentral,” ujar Hajibabaei, tanpa merinci besaran maupun pihak yang telah membayarnya.

Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai konflik pada 28 Februari lalu, Iran mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang tidak terafiliasi dengan mereka. Jalur laut ini memiliki peran krusial, menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Perundingan Damai Terhenti

Upaya perdamaian untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz menemui jalan buntu. Perundingan terakhir dibatalkan pada Selasa (21/4/2026), hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata selama dua minggu berakhir.

Iran secara tegas menyatakan tidak akan membuka kembali selat tersebut sebelum Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ketua Tim Perunding Iran sekaligus Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui media sosial menuliskan, “Anda tidak mencapai tujuan Anda melalui agresi militer dan Anda juga tidak akan mencapainya dengan intimidasi. Satu-satunya jalan adalah mengakui hak-hak rakyat Iran.”

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada menit-menit terakhir sebelum gencatan senjata berakhir memang menarik ancaman untuk melanjutkan serangan. Namun, ia tetap menolak untuk mencabut blokade yang diberlakukan terhadap Iran.

Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai perpanjangan gencatan senjata maupun rencana penjadwalan kembali pembicaraan. Pakistan, yang sebelumnya menjadi tuan rumah putaran pertama perundingan, menyatakan masih terus berupaya menjalin komunikasi dengan kedua belah pihak.

Namun, sumber dari pemerintah Pakistan mengindikasikan bahwa pejabat Iran masih enggan memberikan komitmen untuk mengirim delegasi, dengan alasan blokade yang masih diberlakukan oleh AS. “Kemarin, diplomat dari berbagai negara bertemu dengan otoritas Pakistan dan menanyakan tanggal pasti putaran pembicaraan berikutnya, namun mereka jelas tidak bisa memberikan jangka waktu,” ungkap sumber tersebut, yang enggan disebutkan namanya.