TEHERAN – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pada Rabu (22/4/2026) bahwa pasukan angkatan lautnya telah menahan dua kapal yang dituding melanggar aturan di Selat Hormuz dan mengarahkannya ke perairan teritorial Iran.
“Pagi ini, pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran mengidentifikasi dan menghentikan dua kapal yang melanggar di Selat Hormuz,” demikian bunyi pernyataan IRGC yang dilansir AFP.
Menurut pernyataan tersebut, kedua kapal yang dimaksud telah ditangkap oleh pasukan angkatan laut IRGC dan diarahkan menuju pantai Iran.
Identifikasi Kapal
IRGC mengidentifikasi salah satu kapal yang ditahan adalah “MSC-FRANCESCA”, yang diklaim milik “rezim Zionis” atau Israel. Kapal kedua bernama “EPAMINONDAS” dituding mengganggu sistem navigasi dan membahayakan keamanan maritim.
Pasukan IRGC juga telah memberikan peringatan mengenai sanksi bagi tindakan apa pun yang melanggar peraturan yang ditetapkan oleh Teheran di selat strategis tersebut. Iran menekankan bahwa kapal-kapal harus mendapatkan izin sebelum memasuki atau meninggalkan Teluk Persia melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menyumbang sekitar seperlima dari total ekspor minyak dan gas dunia, serta komoditas penting lainnya di masa damai.
Konteks Ketegangan di Selat Hormuz
Penahanan ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan di Selat Hormuz. Sebelumnya, Iran sempat menutup lalu lintas di selat tersebut sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Situasi semakin memburuk setelah pembicaraan antara Washington dan Teheran di Pakistan pada 11 April 2026 gagal mencapai kesepakatan. Militer AS kemudian menerapkan blokade lalu lintas maritim terhadap kapal-kapal yang menuju dan dari pelabuhan Iran di sepanjang selat tersebut pada Senin (13/4/2026).
Pada Jumat (17/4/2026), menyusul kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon, Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa selat tersebut terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata.
Langkah ini sempat dipuji oleh Presiden AS Donald Trump, meskipun ia menekankan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran di sepanjang selat tersebut tetap berlaku. Namun, pada Sabtu (18/4/2026), Teheran kembali menutup Selat Hormuz dengan alasan keteguhan AS dalam memblokade jalur laut tersebut.






