Global

Iran Bawa-bawa Selat Malaka dalam Konflik dengan AS, Ingatkan Trump soal Blokade Hormuz

Advertisement

TEHERAN — Di tengah memanasnya ketegangan dengan Amerika Serikat, Iran mengisyaratkan potensi dampak konflik hingga ke Selat Malaka. Pernyataan ini dilontarkan oleh penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, seiring dengan berlanjutnya blokade Selat Hormuz oleh AS.

Velayati secara eksplisit menyatakan bahwa era dominasi keamanan oleh kekuatan asing telah berakhir. “Hari ini, bukan hanya keamanan Hormuz dan Malaka yang dijamin di bawah bayang-bayang kekuatan kami dan mitra strategis kami, tetapi keamanan Bab al-Mandab juga berada di tangan saudara-saudara kami,” tegasnya, mengutip The Wall Street Journal. Ancaman ini disampaikan sebagai respons terhadap kegagalan perundingan damai yang sebelumnya digelar di Pakistan.

Lebih lanjut, Velayati memperingatkan bahwa “setiap tindakan usil” akan memicu reaksi berantai yang dapat menjalar hingga ke Selat Malaka dan Bab al-Mandab. “Setiap langkah provokatif akan direspons secara bertahap,” ujarnya, mengindikasikan eskalasi respons Iran terhadap setiap provokasi.

Iran Tingkatkan Tekanan Ekonomi

Sebelumnya, Iran dilaporkan sempat mendeklarasikan penutupan penuh Selat Hormuz. Laporan South China Morning Post menyebutkan bahwa kapal yang mendekat ke selat vital tersebut dapat dianggap sebagai “kerja sama dengan musuh” dan berpotensi menjadi target. Kantor berita Tasnim, yang dikutip Ynet News, juga melaporkan bahwa pasukan Iran sempat memaksa dua kapal tanker minyak untuk berbalik arah di Selat Hormuz.

Analis Danny Citrinowicz melihat manuver Iran ini sebagai strategi untuk meningkatkan tekanan ekonomi. “Mereka jatuh cinta dengan gagasan kampanye ekonomi. Tujuannya adalah menunjukkan kepada sistem internasional bahwa mereka dapat menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar dari yang telah mereka lakukan sejauh ini,” jelas Citrinowicz.

Advertisement

Namun, Citrinowicz berpandangan bahwa penyebutan Selat Malaka lebih bersifat sebagai sinyal peringatan ketimbang rencana aksi konkret. “Gagasannya bukan bahwa mereka akan menutup Selat Malaka, tetapi membingkai hal ini agar orang memahami bahwa harga dari melanjutkan kampanye akan lebih tinggi dari sekarang,” terangnya.

Pandangan serupa diungkapkan oleh peneliti Hu Bo. Ia menilai kecil kemungkinan Selat Malaka mengalami gangguan serupa Selat Hormuz. “Tidak mungkin negara-negara pesisir mengambil tindakan serupa seperti Iran,” ujarnya, seperti dikutip South China Morning Post. Hu Bo menambahkan bahwa Selat Malaka memiliki alternatif jalur pelayaran, termasuk Selat Sunda, Lombok, dan Ombai-Wetar, yang dapat mengalihkan lalu lintas jika terjadi gangguan.

Trump Perpanjang Gencatan Senjata, Blokade Tetap Berlanjut

Di tengah meningkatnya ketegangan dan pernyataan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih untuk memperpanjang gencatan senjata. Namun, langkah ini tidak diiringi dengan pelonggaran tekanan militer AS.

Trump menegaskan bahwa militer AS akan tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. “Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam semua hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu cara atau lainnya,” ujar Trump, seperti dilaporkan AFP.

Advertisement