— Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan klaim adanya keretakan besar dalam kepemimpinan Iran, di tengah spekulasi perpecahan internal. Namun, serangkaian pejabat tinggi Iran kompak menyanggah narasi tersebut, menekankan adanya persatuan kokoh antara rakyat dan pemerintah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf secara tegas menolak tudingan yang dilontarkan presiden AS.

Pejabat Iran Kompak Bantah Klaim Trump

Spekulasi mengenai keretakan kepemimpinan Iran yang digulirkan Trump segera dipatahkan oleh para pejabat negara itu. Seraya membantah, mereka menegaskan bahwa Iran tetap solid dan bersatu.

Presiden Pezeshkian dan Ketua Parlemen Ghalibaf, bersama dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengunggah pesan serupa melalui platform X. Penekanan utama mereka adalah bahwa di Iran, tidak ada lagi istilah kelompok radikal atau moderat.

“Kami semua adalah ‘Iran’ dan ‘revolusioner’. Dengan persatuan kokoh antara rakyat dan pemerintah, serta ketaatan penuh kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi, kami akan membuat pelaku agresi kriminal menyesali perbuatannya,” bunyi pernyataan tersebut.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, turut memberikan penegasan bahwa Iran bukanlah negara yang terpecah belah.

“Iran bukanlah negeri yang terpecah, melainkan benteng persatuan,” kata Aref. Menurutnya, keberagaman yang ada dalam politik Iran justru merupakan bentuk demokrasi. “Namun dalam masa bahaya, kami menjadi ‘satu tangan’ di bawah satu bendera. Untuk melindungi tanah air dan martabat kami, kami melampaui semua label. Kami satu jiwa, satu bangsa,” tegasnya.

Di sisi lain, pada Kamis (23/4/2026), Menteri Luar Negeri Araghchi juga membantah anggapan adanya perselisihan antara militer Iran dengan kepemimpinan politik.

“Kegagalan pembunuhan yang dilakukan Israel tercermin dari bagaimana institusi negara Iran tetap bertindak dengan persatuan, tujuan yang jelas, dan disiplin,” tulis Araghchi di X. “Medan perang dan diplomasi adalah dua front yang sepenuhnya terkoordinasi dalam perang yang sama. Rakyat Iran kini semakin bersatu, lebih dari sebelumnya.”

Nasib Mojtaba Khamenei Masih Jadi Tanda Tanya

Dalam eskalasi konflik di Timur Tengah, sosok Mojtaba Khamenei menjadi pusat perhatian sekaligus menimbulkan tanda tanya. Lebih dari enam minggu lalu, Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026.

Namun, hingga kini Mojtaba Khamenei dilaporkan belum muncul di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya. Pejabat AS menyebut bahwa Khamenei yang lebih muda mengalami luka dan “cacat fisik” akibat serangan tersebut. Di sisi lain, ada pula kabar yang menyebutkan bahwa Khamenei tetap terlibat dalam roda pemerintahan Iran.

Laporan The New York Times pada Kamis, mengutip pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan bahwa Khamenei mengalami luka serius namun tetap tajam secara mental.

Klaim Trump Soal Perpecahan Kepemimpinan Iran

Melansir dari Al Jazeera, Trump dan lingkaran pemerintahannya telah berulang kali melontarkan klaim mengenai perbedaan besar di antara para pemimpin Iran sepanjang sepekan terakhir. Trump bahkan mengeklaim bahwa rakyat Iran kebingungan mengenai siapa yang memegang kendali pemerintahan mereka.

“Rakyat Iran kesulitan menentukan siapa pemimpin mereka,” katanya. Trump juga menuding adanya pertikaian internal yang “gila” antara kelompok “moderat” dan “garis keras” di Teheran.

Pernyataan Trump yang menyoroti dugaan perpecahan ini dinilai dapat menjadi alasan untuk memperpanjang gencatan senjata, sekaligus mengalihkan kesalahan atas mandeknya diplomasi kepada Iran. Teheran sendiri membantah tegas klaim tersebut dan kembali menekankan bahwa kegagalan dialog di Pakistan disebabkan oleh blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kesepakatan yang Belum Menemui Titik Terang

Konflik antara AS dan Iran masih berlangsung tanpa titik temu yang jelas. Trump menegaskan posisinya yang tidak terburu-buru untuk segera mengakhiri ketegangan. Ia berencana untuk terus memblokade pelabuhan Iran guna memberikan tekanan ekonomi, tanpa melanjutkan perang atau terburu-buru mencapai kesepakatan akhir.

“Angkatan Laut Iran berada di dasar laut, Angkatan Udara mereka hancur, sistem pertahanan udara dan radar mereka lenyap, para pemimpin mereka sudah tidak ada, dan blokade ini sangat ketat serta kuat dan dari situ, situasinya hanya akan semakin buruk. Waktu tidak berpihak pada mereka!” kata Trump melalui media sosial pada Kamis.

Menurutnya, kesepakatan hanya akan dibuat jika waktunya tepat dan menguntungkan Amerika Serikat, sekutunya, dan pada akhirnya, dunia.

Kerapuhan situasi ini semakin nyata ketika sistem pertahanan udara Teheran sempat teraktivasi pada Kamis, meskipun belum ada verifikasi mengenai serangan langsung. Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga menyatakan bahwa militer AS akan menembak dan membunuh pihak Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz.

Dampaknya, pasar energi global kembali bergejolak dengan kenaikan harga minyak akibat blokade ganda di Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan pengepungan laut oleh AS terhadap pelabuhan Iran.

Di sisi lain, Israel juga tampak bersiap untuk kembali terlibat dalam konflik. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan negaranya menunggu lampu hijau dari Trump untuk mengembalikan Iran ke “zaman kegelapan”.

“Israel siap melanjutkan perang melawan Iran. Militer siap untuk bertahan dan menyerang, dan target-target sudah ditentukan,” kata Katz, dilansir dari surat kabar Times of Israel.