— PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, melalui anak usahanya PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), menanam 15.000 bibit mangrove di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Aksi ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2026.

Kegiatan penanaman mangrove ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “InJourney Green”. Program ini memiliki fokus ganda, yakni pelestarian lingkungan dan penguatan sektor pariwisata yang berkelanjutan.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Digital InJourney, Herdy Harman, menyatakan bahwa penanaman mangrove adalah wujud komitmen perusahaan untuk mendorong praktik pariwisata yang lebih bertanggung jawab, terutama dalam aspek lingkungan.

“InJourney Green kami dorong sebagai wadah kolaboratif yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memperkuat dampak sosial dan ekonomi secara berkelanjutan,” ujar Herdy dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (24/4/2026).

Herdy menambahkan, pendekatan yang diterapkan dalam program ini mencakup kajian ilmiah dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Tujuannya adalah memastikan setiap program memberikan dampak yang nyata terhadap mitigasi perubahan iklim dan pelestarian ekosistem.

Rehabilitasi Kawasan Pesisir

Program penanaman mangrove di Mandalika ini dilaksanakan berdasarkan hasil kajian teknis dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB). Kajian tersebut memetakan kondisi ekosistem mangrove yang ada di pesisir Mandalika.

Berdasarkan kajian tersebut, kondisi mangrove di Mandalika didominasi oleh fase pertumbuhan pancang dengan ketinggian rata-rata 3 hingga 5 meter. Karakteristik lahan di area tersebut merupakan campuran lumpur dan pasir padat yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

Rehabilitasi difokuskan pada Area 22, yang memiliki luas sekitar 1.500 meter persegi, sebagai lokasi utama. Area 23 juga ditetapkan sebagai area lanjutan. Total cakupan rehabilitasi kawasan pesisir ini mencapai sekitar 5,2 hektare.

Sebanyak 15.000 bibit mangrove yang ditanam terdiri dari tiga jenis, yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Rhizophora stylosa.

Direktur Komersial dan Marketing ITDC, Febrina Mediana, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya menjaga keseimbangan antara pengembangan kawasan wisata dan kelestarian lingkungan.

“Pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan keberlanjutan ekosistem pesisir,” kata Febrina.

Melibatkan Berbagai Pihak

Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove ini melibatkan partisipasi dari berbagai elemen. Mulai dari pemerintah pusat dan daerah, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Tengah, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, akademisi, hingga aparat TNI/Polri dan masyarakat sekitar kawasan Mandalika.

Seluruh proses penanaman dilakukan di bawah supervisi teknis dari PKSPL IPB. Sementara itu, penyediaan bibit mangrove didukung oleh Universitas Mataram.

Penanaman mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir. Fungsi utamanya meliputi menahan abrasi pantai, menyerap karbon dioksida, menjaga habitat biota laut, serta meningkatkan ketahanan kawasan terhadap dampak perubahan iklim.

Selain manfaat ekologis, keberadaan ekosistem mangrove yang terjaga juga dinilai mampu memperkuat citra Mandalika sebagai destinasi wisata yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.