— Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan dirinya telah mengidap kanker prostat dan telah menjalani operasi untuk mengangkat tumor ganas tersebut. Meski demikian, Netanyahu menegaskan kondisinya saat ini sangat baik, sebagaimana dilaporkan oleh BBC pada Jumat (24/4/2026).

Pengungkapan ini menyusul publikasi laporan medis tahunan yang menunjukkan Netanyahu telah menjalani tindakan medis terkait kanker prostat stadium awal. Dalam unggahan di platform X pada Jumat, Netanyahu menjelaskan bahwa tumor ganas tersebut terdeteksi saat ia menjalani pemantauan rutin pascaoperasi pembesaran prostat jinak yang sebelumnya telah berhasil dilakukan.

Ia menambahkan bahwa perawatan yang dijalaninya telah “menghilangkan masalah dan tidak meninggalkan jejak.” Laporan medis juga menyebutkan Netanyahu telah menjalani terapi radiasi untuk menangani kanker prostat stadium awal, meskipun waktu pasti pelaksanaan perawatan tersebut tidak dirinci baik oleh laporan maupun oleh Netanyahu sendiri.

Penundaan Pengumuman demi Keamanan Nasional

Dilansir dari The Guardian pada Sabtu (25/4/2026), Netanyahu menjelaskan bahwa publikasi laporan medisnya sempat ditunda selama kurang lebih dua bulan. Penundaan ini dilakukan untuk mencegah Iran memanfaatkan informasi tersebut sebagai “propaganda palsu terhadap Israel.”

Pemimpin berusia 76 tahun itu menambahkan bahwa ia telah berada dalam pengawasan medis rutin sejak menjalani operasi pembesaran prostat jinak pada tahun 2024. Sebelumnya, pada tahun 2023, ia juga telah dipasangi alat pacu jantung.

Dalam pemeriksaan terakhir, dokter mendeteksi “bintik kecil berukuran kurang dari satu sentimeter” yang kemudian teridentifikasi sebagai tumor ganas stadium awal. “Saya mengalami masalah medis ringan pada prostat saya yang telah sepenuhnya diobati. Syukurlah, itu sudah berlalu,” ujar Netanyahu.

Prinsip Penanganan Risiko Sejak Dini

Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa keputusan untuk segera menjalani perawatan diambil karena ia ingin menangani potensi risiko sejak dini. “Ketika saya diberi informasi tepat waktu tentang potensi bahaya, saya ingin segera menanganinya,” katanya, seraya menambahkan bahwa prinsip tersebut berlaku baik dalam urusan pribadi maupun nasional.

Pengungkapan kondisi kesehatannya ini muncul menjelang rencana kunjungannya ke Gedung Putih dalam beberapa pekan ke depan, di tengah upaya Amerika Serikat mendorong kesepakatan damai jangka panjang terkait konflik dengan Iran. Situasi ini juga beriringan dengan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, setelah konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, yang baru saja diperpanjang selama tiga minggu.