Edukasi

Indonesia-Uni Eropa Kolaborasi Bahas Green Technology, Ada Beragam Beasiswa

Advertisement

Indonesia dan Uni Eropa sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan teknologi hijau (green technology) melalui sebuah forum yang digelar pada Rabu (22/5/2026). Acara ini juga membuka peluang beragam beasiswa bagi para profesional dan akademisi Indonesia yang tertarik berkontribusi pada solusi iklim berkelanjutan.

Forum yang bertajuk “RI-EU Science & Technology Collaboration Forum: Green Technology for Sustainable Climate Solution” ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta. Mereka terdiri dari pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta, perwakilan kementerian dan lembaga pemerintah, serta perwakilan kedutaan besar negara-negara Uni Eropa dan mitra internasional lainnya.

Direktur Minat Saintek Kemendikti Saintek, Yudi Darma, menjelaskan bahwa forum ini dirancang dalam tiga rangkaian utama. Rangkaian tersebut meliputi diskusi panel, pelaksanaan lokakarya teknis untuk program Horizon Europe, dan peluncuran platform EU Green Engineering Hub. Platform ini akan menjadi pusat informasi terkait program studi, beasiswa, serta peluang kolaborasi di bidang rekayasa hijau di kawasan Uni Eropa.

Mendorong Kerja Sama Konkret di Bidang Teknologi Hijau

“Melalui forum ini, kami berharap dapat mendorong terbentuknya kerja sama yang lebih konkret,” ujar Yudi Darma saat sambutan di Gedung Kemendikti Saintek, Jakarta Pusat, Rabu. Ia menambahkan, bentuk kerja sama tersebut diharapkan mencakup kolaborasi antarperguruan tinggi, pengembangan program studi bersama, hingga peningkatan partisipasi Indonesia dalam skema pendanaan global.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto, menyoroti kesenjangan teknologi antara Indonesia dengan negara-negara maju. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia Indonesia di bidang rekayasa.

“Sehingga seluruh pekerjaan-pekerjaan rekayasa di Indonesia tadi disampaikan sejatinya itu bisa dilakukan oleh engineering kita, oleh orang-orang kita sehingga keuntungannya tentu secara maksimal bisa dirasakan oleh kita bangsa Indonesia,” tegas Brian Yuliarto. Ia optimistis, dengan sumber daya alam yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangkitkan industrialisasi yang berorientasi pada teknologi hijau.

Brian Yuliarto menambahkan bahwa teknologi hijau bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. “Kita ingin menarik lebih banyak industri ke Indonesia dengan menyediakan sumber-sumber energi yang tidak lagi berbasis fosil, tetapi berbasis green teknologi,” tuturnya.

Advertisement

Beasiswa Menanti untuk Para “Green Engineers”

Selain fokus pada kolaborasi riset dan pengembangan, forum ini juga membuka pintu bagi para akademisi dan peneliti Indonesia untuk mengakses berbagai program beasiswa dari Uni Eropa.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengapresiasi potensi besar Indonesia dalam ekonomi sirkular dan pengolahan limbah elektronik. “Jadi kami menantikan untuk bekerja dengan Indonesia dengan sangat dekat agar kami bisa mempromosikan 1.000 green engineers dan memastikan mereka bekerja untuk masa depan, bukan hanya untuk Eropa dan Indonesia tetapi untuk seluruh dunia,” ujar Denis Chaibi usai acara pembukaan.

Yudi Darma mengingatkan bahwa untuk mendapatkan pendanaan Uni Eropa, para peneliti Indonesia harus mampu bersaing dengan peneliti dari seluruh dunia. “Jadi makanya kita sekarang itu sedang menjembatani agar informasi-informasi yang disiapkan oleh AU itu bisa mengalir ke peneliti kita. Sehingga partisipasi daripada dosen-dosen dan peneliti kita lebih banyak lagi,” jelasnya.

Ia menambahkan, semakin banyak partisipasi dari peneliti Indonesia, maka peluang untuk berkolaborasi dan memanfaatkan sumber daya yang disiapkan oleh Uni Eropa juga akan semakin besar. Mengenai jumlah kuota beasiswa yang tersedia, Yudi mengaku belum dapat memberikan angka pasti. Menurutnya, hal tersebut sangat bergantung pada kualitas proposal yang diajukan oleh para peneliti dan pelajar Indonesia.

“Berapa jumlahnya? Kita tentunya melihat kualitas dari proposal yang akan disiapkan oleh teman-teman nanti,” pungkas Yudi.

Advertisement