— SETARA Institute merilis Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025, menempatkan Salatiga di puncak daftar kota paling toleran dalam kehidupan antarumat beragama. Laporan ini, yang merupakan publikasi kesembilan sejak 2015, bertujuan untuk mempromosikan praktik baik toleransi di seluruh Indonesia. Dilansir dari ANTARA, Kamis (23/4/2026), hasil studi menunjukkan sepuluh kota dengan skor toleransi tertinggi secara berurutan adalah Salatiga, Singkawang, Semarang, Pematang Siantar, Bekasi, Sukabumi, Magelang, Kediri, Tegal, dan Ambon.

Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, dalam acara peluncuran di Jakarta pada Rabu (22/4) menyoroti adanya dinamika penting dalam peta toleransi nasional. “Masuknya Kota Tegal dan Kota Ambon dalam 10 skor teratas IKT 2025 menandai dinamika penting dalam peta toleransi nasional,” ujarnya.

Halili menjelaskan bahwa Kota Tegal menunjukkan kenaikan peringkat yang signifikan, melompat dari posisi ke-39 pada IKT 2024 menjadi peringkat ke-9 pada tahun ini. Kemajuan ini disebut salah satunya ditopang oleh Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama.

Tantangan di Kota dengan Skor Terendah

Selain menyoroti kota-kota dengan capaian terbaik, Halili juga menggarisbawahi kondisi kota-kota yang berada di peringkat terbawah. Menurutnya, kota-kota tersebut masih menghadapi tantangan pada aspek kepemimpinan politik dan birokrasi yang kurang kondusif dalam memajukan toleransi.

“Secara garis besar, kota-kota pada peringkat 10 besar kota dengan skor terendah pada IKT 2025 masih menghadapi tantangan pada aspek kepemimpinan politik (political leadership) dan kepemimpinan birokrasi (bureaucratic leadership) yang kurang kondusif dalam pemajuan toleransi,” tegas Halili.

Kelemahan kepemimpinan ini, lanjutnya, kerap bermuara pada favoritisme terhadap kelompok tertentu dan formalisasi peraturan daerah yang berbasis agama.

Peningkatan Skor Toleransi Nasional

Secara keseluruhan, studi IKT 2025 mencatat skor rata-rata toleransi nasional sebesar 4,97. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 0,05 dibandingkan skor rata-rata nasional tahun 2024 yang tercatat 4,92.

Kenaikan skor rata-rata pada skala 1-7 ini mengindikasikan bahwa kondisi toleransi di Indonesia tergolong cukup baik dan terus menunjukkan perbaikan berkelanjutan.

Objek kajian IKT 2025 mencakup 94 kota dari total 98 kota di seluruh Indonesia. Pengukuran ini menggunakan empat variabel yang dielaborasi menjadi delapan indikator, meliputi regulasi pemerintah, regulasi sosial, tindakan pemerintah, serta demografi sosio-keagamaan.