— Pemerintah Metropolitan Tokyo, Jepang, mengambil langkah tak lazim dengan menganjurkan para pegawainya untuk mengenakan celana pendek ke kantor. Kebijakan ini diluncurkan sebagai respons terhadap lonjakan biaya energi yang dikhawatirkan akan semakin parah akibat konflik yang berkecamuk di Timur Tengah.

Seorang pejabat pemerintah metropolitan Tokyo yang enggan disebutkan namanya kepada AFP pada Jumat (24/4/2026) menjelaskan bahwa aturan berpakaian yang lebih santai ini merupakan bagian dari pembaruan inisiatif “Cool Biz”. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan pada penggunaan pendingin ruangan (AC) di lingkungan kerja.

Inisiatif “Cool Biz” sendiri bukanlah hal baru di Jepang. Program penghematan energi ini pertama kali digagas oleh Kementerian Lingkungan Jepang pada tahun 2005. Kala itu, para birokrat didorong untuk melepas dasi dan jaket selama musim panas, bahkan beberapa di antaranya diperkenankan mengenakan kaus berkerah.

Namun, kali ini, krisis energi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah menjadi faktor penentu Tokyo untuk memperkuat kembali kebijakan penghematan energi. Sejak bulan ini, para pekerja di lingkungan pemerintahan Tokyo diizinkan untuk mengenakan celana pendek.

Pantauan media lokal awal pekan ini menunjukkan beberapa pegawai pria di kantor pemerintahan Tokyo telah terlihat mengenakan celana pendek dan kaus. Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, yang memiliki rekam jejak dalam mempromosikan “Cool Biz” sejak menjabat sebagai menteri lingkungan hidup dua dekade lalu, memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan ini.

“Musim panas ini kami menganjurkan pakaian ‘keren’ yang mengutamakan kenyamanan, termasuk kemeja polo, kaus, sepatu kets, dan, tergantung pada tanggung jawab pekerjaan, celana pendek,” ujar Koike kepada para wartawan awal bulan ini. Ia beralasan, kebijakan ini diambil menyusul prospek pasokan dan permintaan listrik yang diprediksi kian memburuk.

Lebih lanjut, Koike menambahkan bahwa pembaruan inisiatif “Cool Biz” ini juga mencakup langkah-langkah strategis lainnya, seperti peningkatan opsi bekerja dari jarak jauh (remote work) dan pengaturan jam kerja yang lebih awal.

Dampak Perang Iran

Krisis energi global yang dihadapi saat ini tidak terlepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital untuk perdagangan minyak dunia, oleh Iran telah mengguncang perekonomian global dan memicu kekhawatiran akan pasokan energi yang kian terbatas.