— JAKARTA – Harga biji kopi arabika di pasar domestik melonjak 30 hingga 40 persen akibat terganggunya pasokan pascabencana alam di Aceh dan Sumatra Utara pada akhir November 2025. Kenaikan ini merupakan anomali mengingat harga kopi arabika global justru cenderung menurun.

Ketua Kompartemen Industri dan Specialty Coffee Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, menjelaskan bahwa harga biji arabika di pasar lokal merangkak naik dari kisaran 6,5 dollar AS per kilogram menjadi 9,3 hingga 9,5 dollar AS per kilogram. Angka ini sempat menyentuh puncaknya pada Januari 2026, mencapai lebih dari 10 dollar AS per kilogram.

Mengacu pada kurs Rp 17.245 per dollar AS, kenaikan harga tersebut berarti merogoh kocek antara Rp 112.092,50 hingga Rp 163.827,50 per kilogram, dari harga sebelumnya.

Moelyono menyoroti bahwa lonjakan harga ini tidak sejalan dengan tren global maupun harga kopi jenis robusta di pasar domestik yang justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. “Untuk kopi biji arabika Indonesia mengalami anomali berbeda, terjadi kenaikan, berbalik dengan harga kopi biji arabika dunia yang menurun juga,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Dampak Bencana Aceh dan Sumut

Menurut Moelyono, penyebab utama kenaikan harga kopi arabika domestik adalah terganggunya proses panen dan rusaknya perkebunan kopi di Aceh dan Sumatra Utara. Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda daerah penghasil kopi arabika seperti Gayo Lues, Aceh, serta wilayah di Sumatra Utara, menjadi biang keladi dari masalah ini.

“Kenaikan ini terjadi karena gangguan panen dan kerusakan perkebunan kopi,” ungkap Moelyono.

Meskipun bencana alam tersebut terpusat di Gayo Lues, dampaknya terasa hingga ke daerah lain. Kerusakan perkebunan di Gayo Lues menyebabkan kelangkaan pasokan biji kopi arabika di pasar lokal. Akibatnya, harga kopi dari daerah lain pun ikut terdongkrak naik, meskipun tidak setinggi kopi yang berasal langsung dari Aceh dan Sumatra Utara.

Saat ini, upaya pemulihan lahan yang terdampak bencana tengah berlangsung. “Sudah ada replanting di sebagian daerah,” kata Moelyono, menandakan dimulainya kembali penanaman kopi di area yang sebelumnya rusak.