Akses.co.id — Pemerintah Kota Bogor tengah berupaya keras menangani ledakan populasi ikan sapu-sapu yang menginvasi aliran Sungai Ciliwung. Spesies bernama latin Hypostomus plecostomus ini telah dikategorikan sebagai hama karena dinilai merusak ekosistem dan mengancam keberadaan ikan lokal. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyatakan fokus penanganan akan dilakukan di tiga titik habitat utama yang telah teridentifikasi di wilayah hulu sungai tersebut.
Berdasarkan identifikasi lapangan, tiga lokasi yang menjadi pusat konsentrasi ikan sapu-sapu di Kota Bogor adalah di Kedunghalang Sukaresmi, Kedung Badak, dan area di bawah jembatan Yapis Bantarjati. Dedie menegaskan bahwa penanganan di ketiga titik ini menjadi prioritas utama pemerintah kota.
“Kita temukan titik yang pertama itu di Kedunghalang Sukaresmi, kemudian Kedung Badak, dan satu lagi di bawah jembatan Yapis Bantarjati,” jelas Dedie saat memberikan keterangan, Sabtu (25/4/2026), dilansir dari TribunBogor. Langkah penanggulangan ini direncanakan akan melibatkan kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk memastikan proses pembasmian berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Nanti kita coba upayakan untuk bersama-sama membasmi, menangkap, dan menanggulangi hama ikan sapu-sapu ini,” tambahnya.
Penanganan Berbasis Etika dan Syariah
Meskipun ikan sapu-sapu berstatus sebagai hama perusak keseimbangan alam, Dedie Rachim menekankan bahwa proses pemusnahannya tidak akan dilakukan secara sembarangan. Ia menginginkan adanya prosedur yang tetap mengedepankan etika terhadap makhluk hidup, bahkan dalam konteks pemusnahan hama.
“Sebagai makhluk hidup ada tata cara yang bersifat syariah. Biar bagaimanapun juga ini hewan ciptaan Allah, tentu ada cara-caranya untuk melakukan proses pemusnahannya,” tutur Dedie. Prosedur ini diambil untuk memastikan bahwa upaya pemulihan ekosistem berjalan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan agama, sembari tetap mencapai target pembersihan sungai dari spesies invasif.
Ikan Sapu-sapu sebagai Indikator Pencemaran Sungai
Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung ini sebelumnya juga mendapat sorotan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menyatakan bahwa dominasi ikan sapu-sapu merupakan indikator biologis penurunan kualitas air sungai.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki daya tahan yang luar biasa di lingkungan air yang kotor, sehingga mereka mampu mendominasi habitat ketika ikan-ikan lokal tersingkir. “Jadi kalau ingin menghilangkan sapu-sapu ada dua hal. Pertama, sapu-sapunya harus diangkat. Kedua, kualitas airnya harus diperbaiki agar ikan endemiknya hidup lagi,” ujar Dedi Mulyadi di Bandung, Kamis (24/4/2026).
Langkah Pemerintah Kota Bogor dalam mengangkat ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung diharapkan menjadi langkah awal krusial untuk mengembalikan keanekaragaman hayati lokal di sungai tersebut.
Ikuti Akses.co.id
